Hari itu hari Minggu, masih terbilang masa ‘settle down’ dan belum usai rasanya letih seluruh tubuh ini dari ‘jet-lag’ perjalanan dari tanah air. Hari yang semestinya aku bisa santai menikmati waktu senggang sebelum kembali ke team-site untuk didera lagi dengan jadwal patroli keluar masuk hutan tidak henti-henti itu. Namun akhirnya kuputuskan saja untuk bergabung dengan sang juragan ini, yang notabene sudah jadi kebiasaan-nya diwaktu senggang untuk jelan keluar ‘photo-hunting’. Meski jenis persenjataanku masihlah terbilang ‘anyar’ kisaran 6 bulan baru keluar dari kardusnya, mungkin inilah saatnya aku membuktikan bahwa hasil jepretanku ini tidak kalah dengan bidikan lensa dari kameranya.
Sejak pukul 5AM, kita sudah hijrah dari rumah, berada dijalan menuju bandara, mengapa pagi benar, lantaran juga ingin melepas dan mengantar seorang karib staff misi yang melaksanakan perjalanan cuti-mudiknya, tiada lain adalah saudara kita Bang Donasion yang akan pulang ke Pekan Baru. Lepas melihat pesawatnya terbang meninggalkan Monrovia, inilah dia saat bagiku untuk mulai beraksi, yaitu mendokumentasikan proses repatriasi dari Kontingen Peacekeepers dari Philippines dan Nepal.
Meski matahari sudah tidak malu-malu lagi memancarkan sinar terangnya, banyak pasang mata yang sudah terlihat mengkerutkan dahinya lantaran teriknya sinar sang mentari. Mereka berbaris rapi namun santai, dimana perlengkapan lengkap mereka ditaruhnya di sisi kaki masing-masing. Berhitung manjawab panggilan absen, masing-masing dari mereka terlihat cerah sekali pancaran di wajahnya. Ah, saya tahu benar perasaan ini.. ini adalah perasaan puas karena masa purna tugas sudah diambang pintu. Pada saat mereka menaiki tangga pesawat dan memasuki kabin serta sang psawat itu bergerak maju, maka itulah tanda bahwa mereka sudah pasti akan lepas dari Liberia.
Perasaan yang sama pun juga selalu menjalar diseluruh tubuh ini tiap kali saya berada di Bandara Internasional Roberts di Monrovia ini, jantung ini sudah dag-dig-dug rasanya ingin buru-buru lekas berada dalam pesawat, kalau perlu menginap semenjak malam sebelumnya. Intinya adalah saya dan pesawat itu jaraknya sebisa mungkin dekat. Begulah perasaan mereka sepertinya. Ada yang bernyanyi lagu-lagu daerahnya, ada yang bercanda-ria, ada yang berbincang. Meski aku tidak mengerti bahasa mereka, sepertinya aku bisa menerka bahwa mereka membicarakan menu apa yang akan mereka pesan di restoran setibanya di tanah air dan kampung halamannya masing-masing. Aku jadi ikut merinding membayangkannya…
Jepretan foto itu aku arahkan pada mereka, ada yang sadar kemudian tersenyum, ada banyak diantara jepretan itu memang sengaja diambil dari jauh tanpa mereka sadari bahwa ekspresi wajahnya menjadi sasaran bidik lensa kamera ini.
Proses pendaftaran penumpang (Passenger Check-in) berlangsung tertib dan lancar. Di meja tidak jauh dari pos pendaftaran penumpang, terlihat seorang petugas imigrasi yang piket hari itu sedang sibuk memeriksa dokumen passport yang tumpukannya bukan kepalang. Melihat tumpukan buku passport itu, maka urung niat saya membayangkan betapa enak dan berkuasanya seorang petugas imigrasi sebelumnya. “Ah, tidak juga.. aku lebih baik memilih menjadi penumpang penerbangan saja kalau begitu…”
Menyaksikan proses pemberangkatan repatriasi kontingen, adalah kali pertama buat aku, dimana tugas pokok selama berada di misi pemulihan perdamaian PBB di Liberia ini adalah sebagai seorang Pengamat Militer, dan acara mendokumentasi proses repatriasi ini adalah hobby semata, yaitu memahirkan menggunakan kamera DSLR anyar ini, sedemikan agar peristiwa ini sebaik-mungkin bisa terdokumentasikan dan faham sudut-sudut mana saja sebuah gambar/pemotretan itu diambil terbaik. Itulah mengapa aku bela-belain untuk bisa bangun subuh dan capek-capek berada disini waktu itu. Selain ikut merasakan bagaimana senangnya cuti mudik itu, akupun berkesempatan untuk berbincang dan berkenalan dengan mereka.
Sementara para calon penumpang berkumpul di sebuah hangar terbuka, berbekap kartu pas tarmac, rompi/jaket reflektif kuning berkilau dan sebuah kamera dengan lensa zoom ini, maka lengkaplah sudah persyaratan aku untuk secara resmi berkeliaran di areal landasan bandara internasional Roberts ini, mengabadikan bagaimana proses antar-muat bagasi kontingen ini.
Penerbangan pemulangan (Repatriasi) dari kontingen Philippines dan Nepal ini juga bertepatan dengan kedatangan kontingen pengganti masing-masing. Saat pesawat mereka mendarat, keluar dan berjalanlah para anggota kontingen ini menuju terminal. Terlihat jelas sederet wajah-wajah baru dan segar dalam barisan, mereka melambaikan salam kepada para kolega mereka yang akan terbang mudik ini dan serupa dari kejauhan salam itu dilambaikannya kembali.
Mungkin didalam hati para anggota yang baru tiba ini ada yang berguman dalam hatinya: “Wah, kok Airport Liberia seperti ini ya – jauh sekali berbeda dengan kondisi airport di negara saya..” – karena pikiran seperti itulah yang juga dulu sempat mencuat dikala kedua kaki ini mendarat di tanah Liberia.
Beruntungnya aku sempat menjepret beberapa foto dari anggota wanita dari Kontingen polisi (FPU) Nepal, ada juga ternyata anggota polisi Nepal nan ayu dan mau jauh-jauh datang ke Liberia demi tugas mulia ini.
Mereka disambut oleh personil UNPOL (United Nations Police) dari UNMIL dan komandan kontingen Nepal saat ini. Selepas briefing singkat maka mereka, para anggota kontingen yang baru kemudian masuk kedalam bus dan diberangkatkan segera menuju barak mereka masing-masing.
Selamat datang di Liberia, gumanku didalam hati. semoga kalian betah dan mampu menjalankan tugas dengan baik, menjaga nama baik kontingen dan negaramu..
Lepas usai kontingen baru itu pergi meninggalkan area bandara, maka bergegas menuju ‘marshalling/holding area’ dimana para ‘out-going contingents’ itu berada. Mereka sudah tidak sabar lagi untuk segera naik pesawat. Meski belum diberi aba-aba untuk bersiap-siap, mereka sudah berbaris rapi menyandang barang bawaan masing-masing sambil memandangi pesawat mereka dari kejauhan.
Proses rotasi ini dibantu oleh 5 personil dari Kontingen Polisi Militer Nepal dan 5 Liaison Officer dari masing-masing kontingen yang sibuk wara-wiri (Baca: Hilir-mudik) mengurus pemberangkatan. Dari mulai urusan ‘document clearance’ lalu ‘cargo-handling’, sampai ke perihal final checks.
Wah, sibuk sekali. Kini aku faham sekali betapa repotnya mengurus keberangkatan sebuah penerbangan, apalagi mereka yang bekerja dibidang penerbangan komersial yang selalu bergelut dengan urusan seperti ini dengan tenggat waktu yang saling berkejaran. Wah, sudah pasti cukup stress – maka dari itu aku mengurungkan lagi niat untuk menjadi kepala sebuah bandara internasional – lebih baik menjadi penumpang yang bepergian saja, dan tahunya beres dan terbang mengangkasa..
Begitu percakapan santi melalui radio genggam itu dikonfirmasikan, dan diberitahukan, maka tidak menunggu lama, semua sudah siap melangkah menuju pesawat. Dengan derap langkah pasti, satu persatu anggota personil peacekeepers Philippines dan Nepal itu mendekati pesawat, mengantri untuk menaiki tangga masuk ke pesawat.
Beberapa diantara mereka bangga sekali saat menunjukkan Medali tanda Jasa dari misi PBB atas sumbangsih tugas mereka, tersematkan rapi di bagian dada seragam militer mereka, dan ada yang dengan ceria menunjukkan kartu pass (Boarding Pass) tanda bukti bahwa mereka adalah penumpang penerbangan pulang kampung itu.
Rasanya aku kok jadi pengen betul ya ikut masuk pesawat itu dan tidak turun tangga lagi, pokoknya ikut terbang menemani mereka ke Nepal dan dari situ terus langsung pulang ke Indonesia. Apa daya memang karena belum waktunya buat aku menjalani purna tugas saat itu. Namun demikian, kini aku mengerti benar bagaimana rasa puas dan bangganya saat berhasil menunaikan tugas pada misi pemulihan perdamaian PBB di Liberia ini.. persis seperti yang mereka rasakan.
Kebanggan itu sudah pasti akan diteruskan kepada sanak-famili mereka di tanah airnya. Saat berjalan meninggalkan pesawat yang siap untuk taxiing menuju landas pacu, aku berkata dalam hati: “Saya bersyukur telah dipilih Gusti Alloh untuk bertugas mewakili TNI dan Indonesia pada misi PBB di Liberia..”
NB: Foto-foto lengkapnya bisa ditengok disini






















Mantap pak dickyyyy, selamat bertugas jangan lupa untuk menjaga nama baik bangsa dan negara serta berdoa untuk keselamatan tugas, semoga lancar selalu, salam buat semua peacekeeper dr Indonesia
Kenapa ya pak, kok saya lihat disini, perasaan TNI kita tidak sebanyak seperti mereka yang dari filipin dan nepal?
Oia, bidikan yang bagus pak :)
weits kamera om makin mantaps aja neh….
hagus@ trims pak amien…
Dewi@ yah kalu di Liberia kita tidak punya Bataliyon, tapi kalau di missi lain kita juga punya contingen juga seperti di Sudan, congo.. tugas pemimpin kami itulah sampai saat ini memperjuangkan kesejahteraan moril prajurit..dengan bergabungnya di missi UN.
dents@ mantaps sih nggak biasa ajah.. tapi momentnya itu yah bagus…bos.. masih banyak belajar..nih
suka speechless kalo baca cerita gne.. KAGUM pastinya….:)