Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Bertemunya si anak hilang

9 September 2009, 12:52 , by Endang Satriyani

 

Beberapa saat yang lalu melalui jaringan facebook, berkenalan lah saya dengan Mas Tri yang notabene salah satu teman dari teman baik saya yang dulu sama-sama pernah bekerja di Aceh setelah pasca Tsunami. Sebenarnya Mas Tri bukan profile baru bagi saya…, dari cerita-cerita Marion (teman saya yang pernah bertugas di Aceh) yang saat itu bertugas di Liberia, dia selalu bercerita tentang kedekatannya dengan orang-orang Indonesia yang bertugas di Liberia, boleh dibilang karena Marion bisa berbahasa Indonesia (maklum dia separuh indonesia separuh londo), dari ceritanya lah saya mengetahui bahwa ada kontingen militer Indonesia dan Military Observer yang bertugas di Liberia.

Eno Thamrin

Oh ya sebelum lanjut ceritanya,mending saya memperkenalkan diri dulu deh…, teman-teman disekeliling saya lebih mengenal saya dengan nama Eno,nama lengkap saya sebenarnya Endang Dwi Satriyani, nama yang cukup panjang tapi untuk lebih simplenya cukup panggil saja Eno,sekarang saya bertugas di MINUSTAH, Haiti, sebagai UNV Finance Advisor, bertugas di bawah UNPOL yang khususnya bekerja sama dengan Haitian National Police.

Lanjut cerita..,mulai dari facebooklah saya mulai mengenal teman-teman dari misi yang lain, Kang Lui yang sebenarnya dari dulu, saya suka membaca cerita-cerita singkat beliau mulai dari yang konyol sampai laporan pandangan mata tentang kegiatan-kegiatan Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia diberbagai misi di bawah naungan PBB.

Tentu saja perkenalan saya berlanjut dengan acara telepon-telepon antar mission yang notabene gratis.. Heheheheh…, untuk memperkenalkan diri dengan teman-teman di mission lain. Ibaratnya ini…saya anak yang hilang… trus bertemu dengan keluarga… pastilah saya senangnya bukan main bisa berbagi cerita dengan saudara2 yang bertugas di Mission yang lain.

Inilah sekilas catatan perjalanan dari saya yang sekarang bertugas di Haiti.

September 2007

Setelah hampir dua tahun lebih berkerja di Aceh pasca Tsunami dan beberapa bulan bekerja di Atambua (perbatasan antara Indonesia dengan RTL), dengan berat hati ibu saya mengizinkan saya untuk berangkat dan bertugas ke Haiti. Layaknya semua ibu…, ibu saya mulai memberikan wanti-wanti dan wejangan untuk berhati-hati di negeri orang. Terus terang saya pun yang pada saat itu masih berada di Atambua masih agak sedikit ragu untuk mengambil assigment ini (2 assignment yang pernah ditawarkan oleh UNV Headquarters di Bonn, saya tolak dengan alasan keluarga yang tidak bisa saya tinggalkan), setelah melalui berbagai pertimbangan dan naluri petualangan untuk mencoba hal-hal yang baru.

Akhirnya saya mantap untuk pergi. Bapak saya yang tau betul sifat saya, akhirnya mendukung keputusan saya untuk berangkat dan bergabung dengan UN Misssion di Haiti.

Waktu yang sangat sempit yang di berikan oleh UNDP Jakarta untuk berangkat tidak memberikan saya banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga yang notabene berada di Makassar, akhirnya disepakati bahwa tanggal keberangkatan saya sekitar tanggal 19 September.

Tanggal 18 September, sehari sebelum hari keberangkatan yang ditentukan, saatnya untuk mengambil tiket yang telah di janjikan oleh kantor UNDP Jakarta, setelah berbagai proses, akhirnya tiket telah ditangan…, tapi ada satu masalah besar yang ternyata kedepannya akan menjadi cerita yang menarik…, karena satu dan lain hal,kantor UNDP Jakarta tidak dapat menyediakan visa Amerika untuk saya, waktu yang sempit dan “Political Situation”, katanya yang tidak memungkinkan untuk menyediakan visa buat saya.

Akhirnya…setelah melalui berbagai diskusi diputuskan untuk mengubah rute yang akan saya lalui, kali ini rutenya tidak akan melalui Amerika lagi…tapi rutenya berubah…mulai dari Jakarta, Singapura, Bangkok, Swedia, Madrid, Santo Domingo dan akhirnya Port Au Prince, Haiti.

Bangkok Airport - Getty Images

Bangkok Airport - Getty Images
Airport di Bangkok, Thailand.

Dalam hati saya: “…haaaaaahhh…??” saya harus berkeliling setengah dunia dulu baru sampai ke Haiti, plus tanpa visa apapun di passport saya…. ”This will be a trouble for me”….

Dari UNDP Jakarta mencoba meyakinkan saya, bahwa semua akan ok saja, karena rute yang akan saya lalui tidak memerlukan visa buat saya….tetap saja dengan nada kuatir saya tetap saja menanyakan hal-hal penting yang harus saya ketahui, tentu saja dengan berbekal dengan dokumen-dokumen penting baik yang dikirim dari Haiti maupun dari Bonn saya mantapkan hati untuk berangkat.

Dari Jakarta mulailah perjalanan saya, dengan pandangan yang agak sedih saya melongok ke luar jendela pesawat, pesan ibu dan Tuan Baron (itu panggilan sayang kami buat bapak….heheheheh) tergiang di telinga…, doa mulai kupanjatkan agar perjalanan nantinya lancar sampai tiba ke tempat tujuan. Dalam hati saya berkata, Insya Allah dalam waktu 6 bulan saya akan pulang ke Indonesia…

Ternyata jauh dari yang saya bayangkan, saya pulang setelah 1 tahun bertugas di Haiti…

Saya melongok sebentar kedalam ransel yang saya bawa…(ransel hijau butut yang setia saya bawa kemana-mana dengan lambang tulisan “Indonesia” di bagian depannya), di dalamnya ada dokumen2 penting dan ternyata Ibu saya memasukkan 2 benda penting, yang tidak saya sangka sama sekali…, satu adalah boneka hasil jahitan tangannya dan *satu bendera Indonesia berukuran kecil*…., air mata saya sedikit jatuh….sedih mengingat semuanya….(mellow mode on…!).

Membayangkan akan melalui puasa dan lebaran di negeri antah berantah…tanpa keluarga: “sedihh…!

Tidak memakan banyak waktu untuk tiba di Singapore, berganti pesawat menuju Bangkok dan seterusnya. Disinilah mulai kesulitan yang saya hadapi tanpa visa apapun di passport saya, pihak Airlines menolak untuk memberangkatkan saya, dengan alasan mereka tidak mau menanggung akibat kalau saja pihak negara yang saya singgahi menolak saya untuk transit. Negoisasi yang alot dan tentu saja saya mulai mengeluarkan jurus-jurus sakti saya.. (Maksudnya dokumen2 penting yang dikirim dari UNV Hq – Bonn dan MINUSTAH – Haiti), tapi tetap saja mereka berkeras tidak mau memberangkatkan saya… tapi dengan gaya yang optimis _(padahal dalam hati khawatirnya minta ampuun …deh..).

Saya menjelaskan kalau mereka bisa menghubungi pihak UNV – Bonn, UNDP Jakarta ataupun UN Mission di Haiti… (ribet kan…hehehehehe), akhirnya melihat saya yang ngotot….mereka akhirnya merelease boarding pass buat saya…dengan hati saya agak sedikit lega…akhirnya bisa boarding.

Perjalanan yang panjang pun dimulailah. Dari Singapore, Bangkok untuk transit, kemudian ke Swedia, lalu Madrid…alhasil disetiap tempat transit yang saya lalui, saya selalu mendapat kesulitan yang sama, berurusan dengan petugas imigrasi menjadi hal yang harus saya antisipasi setiap kali saya transit (tidak mudah berurusan dengan petugas imigrasi!!), jangan tanya pula masalah dengan bahasa, saya yang pada saat itu hanya bisa berbahasa Inggris, kadang2 harus ber*Spanglish* (English campur Spanish…hehehe) dengan petugas imigrasi yang bertugas, semisalnya pada saat transit di Madrid dan Santo Dominggo, rata-rata mereka kurang bisa berbahasa Inggris, sementara saya…..cuman ngerti sedikit…

Jadilah kami ber-Spanglish-ria. Kejadian lucu dan lumayan menjengkelkan pada saat ternyata saya harus bermalam di Santo Dominggo, Republik Dominica…karena ternyata jadwal penerbangan untuk saya di undur satu hari, terpaksa saya harus bermalam di dalam airport dan tidak bisa keluar dari area airport karena tidak ada visa, salah satu petugas imigrasi kemudian menyediakan satu tempat kecil buat saya untuk beristirahat…, dengan bersyukur dalam hati saya akhirnya bisa tertidur sedikit, yang tidak saya antisipasi ternyata ada satu petugas imigrasi yang ditugasi diluar untuk menjaga saya…(mungkin mereka pikir saya akan kabur…heheheh), petugas ini mengikuti saya kemana-mana, alhasil saya pun protes kepada officer imigrasi yang lain.

Masalahnya…coba bayangin saja: orang ini juga mau mengikuti saya sampai ke toilet..!!!, dengan bahasa Inggris campur spanish yang tidak karu-karuan…saya protes…kalau saya cuma mau ke toilet….!!, Nah si officer ini ternyata mengerti protes saya, kemudian cuman berkata, bahwa itu adalah tugas dia untuk mengawasi saya…(ampuunnn….dehhh!!).

Akhirnya, dia memberikan pengertian ke petugas itu kalau dia boleh “mengawasi“ saya sampai ke pintu luar toilet….tentu saja saya akan teriak kalau2 saja dia berani mengikuti saya sampai ke dalam ………!!

Saya yang sudah capek dengan panjangnya perjalanan mulai dari Jakarta sampai ke Santo Domingo (3 hari perjalanan yang membuat badan saya rasanya patah2…,dan tentunya tidur yang tidak teratur..), mulai tidak tidak sabar…dan mulai memplototin petugas itu…..

Akhirnya setiap kali mau ke toilet, saya cuma menunjuk toilet yang jauhnya kira2 sekitar 10 meter dari tempat dia…tentunya dengan mata yang agak sedikit melotot dalam hati si petugas pasti berpikir: “Wahhh, sangar juga nihh cewek, artinya awass ngga usah ngikutin saya….“ Begitulah kira-kira arti mata melotot saya…_hehehehe_.

Perjalanan dari Santo Domingo, esok harinya tidak memakan waktu yang banyak hanya sekitar 45 menit melalui udara. Siang hari tibalah saya di Port Au Prince, Haiti… Matahari Port Au Prince yang ternyata sangat menyengat membuat saya membuat tambah lebih capek!..…

Haiti view from Heli

View from the Heli

Penderitaan ini tidaklah usai sampai disitu, ternyata petugas yang seharusnya menjemput saya di airport terlambat datang…, wajah-wajah yang tidak jelas mulai mengerubungi saya, mereka mulai berbicara dalam bahasa yang sama sekali tidak saya mengerti…kadang ada terselip bahasa prancis dan selanjutnya saya tidak dapat menangkap apa yang mereka katakan (ternyata yang mereka pakai adalah *Bahasa Creole*…).

Dari lagaknya mereka menawarkan/memaksa saya untuk memakai telepon, mungkin karena melihat tampang saya yang asing, mulailah mereka mengerubungi saya berteriak-teriak: “…Philipino…Philipino…komos taka??…”. Mereka berpikir saya dari Philiphines. Kemudian dari roman muka yang agak terkejut, lalu tersenyum dan setelah itu mulai deh pasang tampang sedikit masam, saya akhirnya kembali ke dalam ruangan airport. Sambil berpikir… kalau sampai 30 menit penjemput saya tidak datang, maka saya harus mencari jalan lain.

Tunggu punya tunggu…akhirnya 30 menit sudah lewat…., akhirnya saya memberanikan diri keluar lagi…, melongok dari pintu mencoba melihat kalau-kalau si penjemput saya sudah tiba (biasanya sih datang membawa papan nama dengan bertulis nama org yang di tunggu…), akhirnya setelah beberapa menit saya melihat beberapa mobil UN yang terparkir di luar airport.

Melihat saya yang melongok kesana kemari, saya akhirnya dihampiri oleh salah satu UNPOL yang dari lambang bendera dibahu kanan-nya ternyata dari Philiphines, sambil menyapa saya dia mulai berbicara dalam Bahasa Tagalog, dimana sedikit-sedikit mengerti, tapi untuk lebih memperjelas diri akhinya sambil tersenyum saya bilang bahwa saya bukan dari Philiphines, tetapi dari Indonesia. Guna lebih memperjelas lagi, saya memperlihatkan ransel hijau butut saya yang bertuliskan *Indonesia*….heheheheheh.

Alhasil dengan bantuan si abang yang dari Philiphines ini…akhirnya saya bisa sampai ke Logistic Base…*hhmmm perjalanan yang melelahkan……!*

Tidak terasa bulan September 2009 ini genap 2 tahun saya bergabung dengan UN Mission di Haiti. Cerita selanjutnya mengenai pengalaman saya selama bertugas akan saya ceritakan di lain waktu……..terima kasih …..ciaooo…

Endang Satriyani Endang Satriyani, or known as Eno, has recently joined the UN mission in September 2007, having been assigned in Haiti, under MINUSTAH as UNV Finance Advisor, of which her main duty is working together with Haitian Nationale Police (HNP)...

Detail Profile »

7  Comments

by bakulrujak at 9 September 2009, 21:29

waaaah….
ngikutin petualangan mbak eno bisa berasa ikutan keliling duniaa…
bravo dehh!

by Tanty Surya Thamrin at 9 September 2009, 22:14

Bandera and Tuan Baron!….hahaha….wait until they read this travelogue, sista!….You did it great! We are proud of you ;-))

by Rian Poncowati at 9 September 2009, 22:30

nice story, senang bacanya serasa ikut berpetualang…ditunggu bu Eno….kisah selanjutnya.

Salam merdeka

by Luigi Pralangga at 10 September 2009, 11:10

Juragan, mbaca pengalaman bertugasmu aku jadi inget filmnya si Tom Hanks —> The Terminal (inget?), hanya beda alur cerita aja..

Sing sabar di negeri orang dan banyak doa agar dimudahkan selama bertugas, kita2 di Liberia/UNMIL akan mudik bedol desa lebaran nanti.. kasih khabar yah via intermission code, kita ngobrol yah..

Salam hangat dari Liberia, West Africa.

by amir gta at 11 September 2009, 23:34

Ternyata anak bangsa sdh mengembangkan sayapnya di negara lain, sipil dan milter bisa bersama tanpa memandang status.
Sukses untuk anda mbak eno salam merah putih dari tanah air

2 benda penting, yang tidak saya sangka sama sekali…, satu adalah boneka hasil jahitan tangannya dan *satu bendera Indonesia berukuran kecil*…., air mata saya sedikit jatuh….sedih mengingat semuanya. saya sangat terkesan dengan tulisan ini

by Mei at 14 September 2009, 02:05

Sukses untuk anda mbak eno salam merah putih dari tanah air

by I Made Kusuma D.G at 13 October 2009, 03:53

Kalo difilmkan bisa jadi kayak “The God Must Be Crazy” nggak ya Mbak???By the way aq bangga padamu…sukses selalu buat Mbak Eno seorang

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Octave Ferdinal Octave FERDINAL Having previously assigned to UNAMSIL – United Nations Mission in Sierra Leone, Ocktave Ferdinal is nothing new to peacekeeping and DDRR process. Presently serving at UNMIN, the United Nations Mission in Nepal as Arms Monitor/Military Observer under Kontingen Garuda XXIV-1/UMN...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Hand-made Fitness Center ala Satgas Indobatt di Lebanon
Olah raga yang teratur akan sangat membantu dalam mewujudkan kesehatan jasmani yang baik. Dan tentunya akan lebih baik lagi jika memiliki fasilitas olah raga yang mendukung. Keterbatasan sarana olah raga di markas Gajah Mada Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak membuat para _peacekeeper _Polisi Militer kehilangan akal. Dengan inisiatif dan kreatifitas para personil, mereka telah berusaha mengadakan sendiri peralatan olah raga yang dibutuhkan.
Muhammad Dahlan , 7 hours ago

The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI / Sector East Menerima UN Medal
Major General Alberto Asarta Cuevas selaku UNIFIL Head of Mission and Force Commander memimpin dan bertindak sebagai Inspektur Upacara.upacara penganugerahan medali PBB kepada prajurit The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Sisingaan Indobatt buat Terpana Warga Lebanon
(Marjayoun; 29 Juli 2010). Satu lagi andalan kebudayaan dan kesenian Indonesia yaitu tari Sisingaan yang Indobatt tampilkan untuk menyemarakkan acara malam Festival Kesenian. Tari tersebut membuat terpana penonton festival yang... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Peleton Harpal Indobatt : “Tiada Kata Tidak Bisa”
Semboyan yang dimiliki oleh Peleton Pemeliharaan Peralatan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt) yakni: “Tiada kata tidak bisa” telah menjadi semacam daya dorong yang sangat membangkitkan... »
Sanra Michiko Moningkey , 2 days ago

Srikandi Indonesia Jajal Kemampuan pada ’21,5 km + 10 kg Dancon March’ di Lebanon Selatan
Kiprah Wanita Tentara Nasional Indonesia (Wan TNI) yang tergabung dalam Kontingen Garuda tahun 2010 pada misi penugasan UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak kalah peran sumbangsihnya bagi TNI, bangsa dan negara Indonesia. Tiga dari lima Wanita TNI yang ada di Lebanon Selatan, menjajal kemampuannya dalam kegiatan jalan jauh atau yang lebih dikenal dengan nama Dancon March yang diadakan beberapa waktu lalu oleh Kontingen Negara Denmark dengan mengambil start dan finish di Danlog Square di dalam kompleks Markas Besar UNIFIL UN Posn 4-7C.
Sanra Michiko Moningkey , 3 days ago

 

Recent Comments

dino commented on Congo: The time has finally came
a few seconds ago


jarwadi commented on Indobatt Bantu Masyarakat Lebanon Selatan Panen Tembakau di Desa Deir Siriane
a few seconds ago


boy fadly commented on Balada sebuah pagi di Monrovia
a few seconds ago


boy fadly commented on Perjalanan seru menuju Ganta
a few seconds ago


boy fadly commented on Si jali-jali Nyasar ke Liberia
a few seconds ago