“Jangan lupa minum kopi Aceh…,” dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kopi Aceh adalah yang selalu orang pesankan ketika ada teman atau kenalan yang akan pergi ke Aceh. Apalagi kemudian ditambahi dengan cerita yang mengatakan konon kopi Aceh itu enak karena dicampur ganja. Hahaha…, saya tidak akan memberi komentar tentang itu… biarkan anda coba sendiri…
Dimana kita bisa minum kopi Aceh? Dimanapun saja bisa. Dan kalau anda malas untuk menyeduh kopi sendiri, maka di tiap sudut kota Banda Aceh, bertebaran yang namanya warung kopi. Walaupun jumlah warung kopi itu di satu jalan saja bisa lebih dari sepuluh warung, tetap saja semua warung kopi hampir bisa dikatakan selalu ada pengunjungnya. Mungkin ini yang bisa dikatakan sebagai bagian dari budaya Aceh, untuk bertemu teman, nongkrong, dan mengobrol di warung kopi. Ngobrol dari hal-hal yang paling ringan sampai paling berat… semuanya bisa ditemui di warung kopi.
Kota Banda Aceh yang sekarang dipenuhi para pekerja organisasi nasional ataupun internasional yang bekerja untuk rehabilitasi Aceh, baik untuk masalah pasca tsunami maupun pasca konflik, pasti menggunakan waktu senggang mereka untuk ngobrol bertemu teman sekantor maupun lintas kantor di warung kopi. Bahkan tidak jarang satu kegiatan besar bisa diawali dari hanya sebuah obrolan santai di warung kopi.
Di dekat rumah saya, dulu waktu saya tinggal di Banda Aceh, adalah warung kopi yang paling masyhur di seantero Banda Aceh, di Kecamatan Ulee Kareng, namanya warung kopi Jasa Ayah, atau ada juga yang menyebutnya warung kopi Solong. Di warung kopi ini, sembari meneguk secangkir kopi (tanpa gula kesukaan saya) dan ditemani beberapa makanan kecil (saya paling suka srikaya yang terbuat dari telur), enak sekali kalau kita ngobrol ngalor ngidul ataupun diskusi mengenai masalah-masalah di Aceh… dan ide barupun muncul dari sini… seperti misalnya menulis artikel tentang warung kopi ini…



(semua foto diambil oleh teman saya, Lars)
(.dodie.)


wah kalau lihat penyeduhnya, benar2 gak kalah sama starbucks,
btw yang menggantung hitam itu ,,, kopi ?
iya mas kus, itu kopi disaring… sebanyak itu yah? hehehehe.. mantravt :D :D
itu saringanya mantebh dah :D
saringan gaban hehehehe…
Bener tuh mas,kopi itu sebuah insting,sesuatu yg menjadikan moment menjadi sebuah inspirasi dari kata hati yg tak tergali oleh jenis minuman lain,tapi minum kopi yg paling NIKMAT adalah tanpa gula sama sekali,cicipi,rasakan dilidah,tarik kelangit langit,nikmati ditenggorokan,luar biasa mas,yang namanya kopi aceh dari Gayo tak ada DUA nya.
salam jabat erat : EA
@pak Erfan
gak pakai gula ? gak pahit pak ?
gak sabar nih nunggu kiriman si dodie ? hayooh kirim :P sampe ngiler aye :P~
Mas KUS selalu minum kopi pakai gula yaa…cobain deh XX tanpa gula,kalau mas ke kantornya Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia ( AEKI ) mereka itu sll mencicipi kopi tanpa gula utk menentukan kwalitas kopi tsb,salam sukses mas Kus
Dulu sewaktu saya di Aceh, ada anekdot yg mengatakan bhw kain yg dipake utk menyaring kopi ialah kain bekas CELANA DALAM! Ha3x…makanya rasanya khas sekali…hi3x…
Yg lebih kejam mengatakan bahwa itu kaos kaki bekas…tp kayanya kalo pake kaos kaki, rasanya malah jadi ga karuan…he3x..
Tadinya, sy pikir Kopi Aceh udah ga ada lawannya. Eh, ternyata setelah tugas ke Lebanon, ada juga Kopi dgn rasa yg lebih mantap!
Silahkan bagi pecandu kopi, cobalah Kopi Lebanon…Ditanggung melek terus! Tapi, bagi pemula, jgn coba2! Krn 99% biasanya mules….hehehe…
@capt. Sandy
kopi lebanon ? apa bedanya dengan kopi arab? yang bikin mata ngejreng sampe pagi.
Cocok buat nemenin nonton Liga Champions besok dini hari :)
Dod, mau dong dikirimin kopi aceh lagi – tapi kali ini kopi-nya yang “kerasa” yah ganja-nya.. aku dah promosi kepada temen2 di afrika sini yang selama ini mereka selalu membual ttg kehebatan ‘turkish coffee’ – benci banget deh! :-)
Waaaah… Sumpah jadi pengen minum kopi, tapi di surabaya mana ada kopi aceh… (ato gue aja yang gak tau..?)
waduh…sy dah lama banget tuh pak gak minum kopi tarik aceh….jadi pengen nih pak hehehe