Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Nadia FEBINA

Belajar Dari Teman Di Angola

30 April 2008, 10:30 , by Nadia FEBINA

 

Salah satu dari banyak hal yang saya syukuri berada di Angola adalah kesempatan untuk berteman dengan teman-teman dari Angola. Mereka sangat terbuka dan ramah, kadang membuat saya lupa dibalik senyumnya yang lebar dan manis itu, mereka-mereka ini adalah orang-orang yang pernah melalui perang panjang selama kurang lebih 15 tahun yang baru berakhir 5 tahun yang lalu.

Seperti hari ini saya berkesempatan ngobrol-ngobrol lumayan panjang dengan seorang kawan. Sebenernya saya nggak begitu sering ngobrol dengan dia tapi karena hari ini kita kebagian menunggu sesuatu untuk waktu yang lumayan lama di sebuah ruang tunggu, jadilah pembicaraan terjadi dari A sampai Z. Entah gimana asal mulanya, kami bercerita tentang latar belakang pendidikan masing-masing, maklumlah namanya juga pembicaraan basa-basi.

Kami dari kecil harus belajar sembari ngumpet-ngumpet.. Takut-takut kalau ada polisi”, katanya.
“Lhoh memangnya kenapa kalau ada polisi?”
“Iya tahun2 itu (akhir ’90-an ke thn 2000), kan setiap anak muda laki-laki umur 18-35 tahun harus jadi tentara mbak, untuk ngebantu perang sama pemerintah. Kalau keliatan di jalan bisa ditangkep trus langsung dibawa ke camp.”
“Trus?? Bilang dulu nggak ke orangtua kalau mau pergi perang?”
“Ya enggak.. Mana dikasih kesempatan kalau udah ditangkep begitu. Ada juga temen saya dulu yang setelah 5 tahun baru bisa kembali ke rumahnya dan selama itu keluarga nya nggak tau kalau dia masih hidup apa enggak.”
“Oooo gitu yaa….”, mendengarnya agak tersekat juga tenggorokan saya rasanya, sedih.

Tapi saya nyambungin juga.

Jadi mas ini waktu jaman-jaman itu berhasil ngumpet yah dari polisi?”
Dia nyengir, “heheee… iyaaah, saya nggak mau mba. Keluarga saya, kakak adik saya dan sepupu-sepupu saya nggak ada yang mau berperang. Kita semua berhasil ngabur. Hehe.”
“Iya yaaa.. Perang jahat”, saya udah nggak tau mau ngomong apa lagi saking bingungnya.
“Iya memang jahat. Sebenarnya saya kehilangan Bapak saya dan saudara laki-laki saya yang meninggal ketika perang itu.”
“oh… sorry to hear that.” Saya semakin sedih.Ga nyangka selama ini seorang teman punya cerita seperti ini, seperti di film-film.
Dia tersenyum. “Nggak papa mba, I learn that people needs to feel powerful. That’s all what people are looking for, to win, to be and to feel more powerful amongst other people”, katanya masih sambil tersenyum. Saya cari-cari nada kemarahan di dalam suaranya ketika dia berbicara, saya gagal. Tidak ada kemarahan di situ. Hanya ada senyum ramah dengan gigi putih yang indah berkilau. Pastilah dia salah satu dari segilintir orang-orang yang diberkahi yang sudah bisa menerima apa yang namanya takdir dari Illahi.

Mendengar cerita seperti ini sebegitu dekat, rasanya seperti tak percaya ketika nengok balik ke kondisi saya sendiri.. Apa saja yang saya keluhkan, nafsu berkompetisi yang menyamar sebagai “keinginan untuk maju”, atau apa pun itu yang membuat kita menjadi stress yang tidak perlu, rasanya seperti sangat tidak berarti dan sangat insignifikan. Bandingkan dengan yang harus dialami oleh teman-teman ini. Yang pernah mengalami hidup di jaman perang. Dan lolos dari situ. Mengambil pelajaran dari situ. Menerima. Dan tersenyum lagi.

Mas katanya tadi sekolahnya putus karena perang. Hebat yah, bisa diterima di perusahaan multinasional begini, trus bahasa Inggris cas cis cus. Siapa yang ngajarin?”
“Ooh, hehehe.. Masa sih, masa bagus bahasa Inggris saya.. Saya cuma belajar sendiri kok dari buku, latihan baca-baca majalah dalam bahasa Inggris dan dengerin lagu-lagu. Lumayan loh, lagu-lagu bisa bikin belajar”

Malu saya rasanya. Malu kalau suka mengeluh. Malu suka take things for granted.
Oalaahh.. Rasanya seperti kepala saya lagi dikeplak sama Tuhan nih… Doeeeeeeennnnngggg…!!

Dan sehabis pembicaraan itu, saya pun harus kembali kerja RODI di kantor (oops, mengeluh lagi!). Dan ini lucu. Kebetulan saja tiba-tiba di ruangan saya ada seorang kolega paruh baya bukan dari angola teriak-teriak marah-marah dengan suara yang menggelegar karena seseorang lupa memasukkan sebaris komen di dalam laporan harian. Seakan dunia akan runtuh tanpa komen itu dan tidak masalah yang lebih berarti lagi di muka dunia ini selain si komen yang kelewat dalam laporan harian itu… :)

Nadia FEBINA Nadia FEBINA Nadia Febina has been working as an engineer for 7 years in oil & gas projects & production for a major oil company. She now lives in Angola since February 2007. Prior to that, also as an engineer, she had...

Detail Profile »

8  Comments

by Luigi Pralangga at 30 April 2008, 15:33

Kadang manusia itu, apalagi mereka yang terbiasa diatas angin dan tidak berpijak pikirannya akan membesar-besarkan hali yang kecil dan sebaliknya. Bekerja di Afrika macam kita berdua, dirimu di Angola dan saat ini (selang 4 tahun tearkhir) di Liberia.. banyak hal yang mana kita TIDAK boleh anggap enteng (taking things for granted) akan apapun.

Baru2 ini, genset dirumah kita sering batuk2 lagi dan gelap/padamlah malam-malam kita, seorang kawan serumah tiada cape berkicau, katanya kepanasan dan banyak nyamuklah inilah.. itulah. Para petugas satpam dirumah, setelah saya tanya:

“Sudah berapa lama kalian tinggal dan hidup tanpa listrik?”

Dibalasnya enteng dan kalem..

“Wah, mas.. sudah 14 tahun lebih.. hanya sebatang lilin tiap malam dan bagi mereka yang mampu saja bis abeli genset kecil dan ongkos BBM/Solarnya..”

Dalam hati.. Gila! 14 tahun hidup dalam kegelapan, sementara si kampret itu baru semalam atau dua gegelapan udah ngak-ngek-ngok kemana-mana suaranya hingga terdengar jauh ke tetangga sebelah. :D

by nadia febina at 30 April 2008, 23:33

Kang.. iya yah.. jadi gimanaaa gitu ya, rasanya biarpun sengsara2 dikit tapi jadinya dalem hati bersyukur juga,… mau gak mau “dipaksa” untuk ngeliat hal2 basic lagi… Jadi “dipaksa” menikmati some simple things.. Ibaratnya kalau meteran kita dikalibrasi lagi. :D

by silly at 2 May 2008, 11:24

Nadia… postingmu sungguh menyentuh sanubariku yg paling dalam. Sumpah!!!. Aku quote yang ini yah:
“I learn that people needs to feel powerful. That’s all what people are looking for, to win, to be and to feel more powerful amongst other people”…

And this one:
“Tidak ada kemarahan di situ. Hanya ada senyum ramah dengan gigi putih yang indah berkilau. Pastilah dia salah satu dari segilintir orang-orang yang diberkahi yang sudah bisa menerima apa yang namanya takdir dari Illahi.”

Duh, terharu sekaligus kagum sama pemuda itu ya Nad. Kenapa bisa connect banget sama posting aku pagi ini. Tadi subuh (jam 4.30) saya posting ttg Count Your Blessing, bahwa kadang kita lupa mengucap syukur karena terlalu sibuk mengeluh yach… :D

Btw, masih insomnia???… Sama, saya dari malem sampe posting itu akhirnya saya posting, belum tidur sama sekali lohhh… Nah, semoga kamu usah terlepas dari insomnia things ini… secara kita kan sama2 insomnia mania (hehehe, insomnia kok bangga :D )

Takecare yach nad… Eh, btw, kapan2 gue boleh tulis tentang elo gak nad di blog gue. Tadinya udah ijin ama teman2 peacekeeper yg lain, tapi baru mas Luigi yg bersedia.

Oke Nad, Ym me if you can yach.
TALC (tender, attention, love and care) from Indonesia,

silly

by Kapt Kav Ossy D, BS at 9 May 2008, 19:00

Tidak hanya di Angola mbak, di Indonesia pun sekarang banyak orang yang ngumpet dari kejaran KPK..:) Permasalahan hidup di Indonesia pun semakin kompleks mbak kalau memang BBM akan naik dalam waktu dekat ini. Namun kita sebagai generasi muda jangan pernah menyerah dengan kondisi mbak. Bahkan boleh dibilang, dari kesulitan inilah, kesempatan kita untuk maju akan semakin besar karena standar sudah sedemikian rendahnya. Kita tinggal menunggu siapa yang terpanggil untuk memutarbalikkan nasib bangsa ini..Atau mungkin bangsa ini masih menunggu staf-staf PBB yang bekerja di luar negeri untuk pulang ke tanah air..:) who knows…sukses selalu mbak.

by Marisa at 13 May 2008, 17:20

Nice! Wonderful approach towards a state of personal peace.

However, the people who are willing to compete and improve themselves are exactly the same people who are willing to build this nation. Therefore, I strongly suggest that Indonesian people should be very careful on how they easily judge of “keinginan untuk maju”. Pasrah mulu tapi otak kosong dan perut kruyukan juga ngga ada guna. Just another typical Indonesian thinking, in my opinion.

by nadia febina at 15 May 2008, 00:05

Hi Marisa …
Good point! :)
Mungkin orang-orang Indonesia yang Marisa maksud pada salah kaprah, ngakunya pasrah padahal malas. Padahal, I think, pasrah (acceptance) dan kemalasan (laziness) is such a huge difference!!

In my opinion, idealnya adalah berbuat yang terbaik dan mau maju (=delivering responsibility to the max) dengan tetap feet on the ground (=acceptance). Jadilah a nation becomes a strong one, material dan spiritual, iya gak? This is somewhere in an ideal world, of course! But it is not impossible.

Oh iya btw, I dont think Indonesians are as bad as what you mentioned in terms of wanting-to-get-ahead-in-the-world. Seriously! We are just unfortunately a big ship (5th in the world in terms of population, and might be 1st in the world in terms of diversity?) which sometimes miscoordinated (well, big time), but I am convinced that we still have hopes.

by tintin at 17 May 2008, 08:42

SUbhanalloh .. semoga ALLAH memberikan balasan yang baik atas kesabaran mereka .. :)

by Wijaya at 19 May 2008, 20:31

memang benar apa yang Nadia tulis.. hampir sama seperti pembaca yang lainnya; sisi sentimentil saya keluar! entahlah kenapa saya merasa lebih sensitive saat saya ada di luar negara dari pada di negeri kita sendiri..
apalagi kalau berbicara soal “nyaman” wah akan panjang argumen nya tuh!
Pas pulang kampung di Bali; mereka lebih tertarik sama apa yang kita “pakai” atau apa yang kita “punya” di bandingkan dengan bagaimana kita mencapai nya!
Semoga ini pembelajaran buat kita semua bahwa “hidup harus di perjuangkan” tidak semua datang karena suratan tangan semata!
LOVE YOU ALL ( waduh bis juga nih saya menulis comment kayak gini) :-)

 

Commenting is closed for this article.

Join Us

join our group in Facebook

Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

442 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Deden LUKMAN Graduated from the Air Force Academy in 1996. Initial service within the IAF begun Central Command Comms in Abdurrahman Sallah Air Force Base, Malang – Eastern Java. Following another assignment at Hassanudin Air Force Base, Makassar for 2,5 years. His...

Detail Profile »

View All ...»

 

Partner

pralangga.blogspot.com
 

Recent Stories

Monuc tinjau pekerjaan PBB
Deputy Force Commander Monuc – Mayor Jenderal Andrian Foster melihat dari dekat pelaksanaan tugas pasukan penjaga perdamaian PBB di Dungu-Negara Republik Demokratis Kongo hari Kamis (2/7). Kunjungan... »
Leo Sugandi , 10 hours ago

Indobatt resmikan Taman Masyarakat di Lebanon
Sebagai pasukan penjaga perdamaian dunia, pasukan TNI yang tergabung dalam Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-C/UNIFIL atau sering disebut dengan Indobatt ( Indonesian Battalion ) di Lebanon... »
Hari Mulyanto , 3 days ago

Jenderal Martinez tinjau KESIAPAN OPERASI INDOBATT
Komandan Sektor Timur UNIFIL ( United Nations Interim Force In Lebanon ) – Brigadir Jenderal Prieto Martinez meninjau langsung kesiapan operasi Batalyon Indonesia (Indobatt)/ Konga XXIII-C yang... »
Hari Mulyanto , 3 days ago

All-Terrain Driving: Sebuah prasyarat kapabilitas staff UN Mission
Memang pada pagi hari itu, si kampret ini tidak sempat menyisir dan mebaca email-email yang masuk. Sudah ad sekitar 50-an lebih masih berstatuskan unread dengan tulisan cetak tebal, beberapa diantaranya... »
Luigi PRALANGGA , 4 days ago

2 prajurit TNI terpilih sebagai Petembak Terbaik
Prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda di Lebanon kembali menunjukkan prestasinya dalam lomba menembak antar kontingen se UNIFIL ( United Nations Interim Force In Lebanon ) yang diselenggarakan oleh... »
Hari Mulyanto , 7 days ago

 

Recent Comments

hera sri m commented on 2 prajurit TNI terpilih sebagai Petembak Terbaik
a few seconds ago


dewi commented on Indobatt resmikan Taman Masyarakat di Lebanon
a few seconds ago


budhie commented on 2 prajurit TNI terpilih sebagai Petembak Terbaik
a few seconds ago


Edison Simanjuntak commented on 2 prajurit TNI terpilih sebagai Petembak Terbaik
a few seconds ago


Yudha PH commented on All-Terrain Driving: Sebuah prasyarat kapabilitas staff UN Mission
a few seconds ago