Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Bau Mulut Internasional

9 January 2010, 17:56 , by Luigi Pralangga

 

Bukan,.. bukan, judul artikel ini bukanlah nama perusahaan di Liberia, kok. Ceritanya diawali saat pagi itu, si kampret ini sibuk mencari sisa permen karet yang ada dilaci meja kerja. Menarik laci pertama, menggeser tetek-bengek yang berserakan di laci tersebut tidak nampak bungkus dan helai permen karet itu. Dicari di laci kedua pun nihil, dilirik waktu pada jam tangan ini menunjukkan pukul 9.30 pagi sudah dan jadwal training dan diskusi akan dimulai dalam 15 menit. Mengapa si kampret ini lantas bingung begitu ya?.

Apa pasal yang menyebabkan tidak ditemukannya si permen karet sisa kemaren itu membuatnya kemudian menjadi pusing begitu?. Hehehehe.. ini tidak lain dan tidak bukan karena saat dia bergegas menuju ke kantor ada satu ritual yang terlewat, yaitu berkumur selepas sikat gigi pagi. Hawa nafas pagi nan bau mulut sejuta-rupa itu nampaknya masih kentara benar, dan sudah pasti akan memalukan sekali kalau saja ada hidung orang lain yang tersengat olehnya. Langsung terbayang seperti apa rawut wajah yang terkejut lalu kemudian merengut si empunya hidung itu. Maka itulah ia sibuk mencari: “Dimana permen karet sompret itu ngumpet!!@^$#^@%!!”

Ayolah, akui saja kalau setiap orang, saat bangun tidur sudah pasti saat dia menguap dan mengejan, hawa nafas itu cukup ampuh untuk membuat layu kering setangkai bunga mawar segar sekalipun bila ditiupkan kepadanya. Coba deh!.

Bicara soal aroma dan perihal per-bau-an ini, memang tidak ada habis ujung pangkalnya. Dari hasil pengamatan dan pengalaman selama bertugas pada misi pemulihan perdamaian PBB di Liberia ini, yang notabene kawan sejawat dalam satu kantor dan mereka yang ditemui dalam pergaulan di mission, beragam sudah aroma yang semilir melintas pada hidung, hingga ia terekam jelas dibenak ini, bahwa si anu dari negara anu itu saat dia berbicara kepada si kampret ini, rasanya kok seberti duduk dan bercengkerama disebelah wese umum super-jorok begitu bau nafasnya… atau si mbakyu anu yang asli dari Italy itu, meski dia cantik, entah mengapa si kampret ini, meski berupaya untuk memunculkan rawut wajah yang biasa, nampak mesti harus mengkerutkan sedikit roman muka, karena hembusan nafasnya mirip sepotong keju yang sangit wanginya persis bau kentut. Sumpah!.

Bener, khan.. akhirnya pukul10 pagi, setelah pembukaan sesi training usai, kini tibalah sesi diskusi kelompok, dimana para peserta training dibagi-bagi menjadi kelompok kecil duduk melingkar dan berjarak dekat sekali sembari merancang corat-coret bersama diatas meja. Agar terhindar dari rasa malu (kalau si kampret ini bau mulut), maka ia berbicara agak perlahan dan bersuara rendah, sambil sesekali menempatkan tangan didepan hidung, persis seperti seorang professor yang sedang berpikir keras. Padahal sih menghalangi hembusan ‘bau cubluk’ (Bau Wese Umum) agar tidak menyapa dan terdeteksi orang lain.

Training Participants

Namun apa mau di kata, karena si kampret ini didaulat menjadi juru bicara si kelompok tadi, semua perhatian anggota diskusi tertuju padanya, dan semakin banyak pasang mata yang ikut berkerut dan memiringkan kepalanya, karena suara si kampret ini terlalu pelan dan tidak jelas karena tertutup tangan tadi. Apalagi dengan ada rekan diskusi yang kemudian nyeletuk berkata: “Would you please speak louder, I can hardly understand what you are saying..” – dalam hati berbicara padanya: “Hey, sompret, andai saja pagi tadi tidak lupa berkumur, saya pasti akan berbicara dekat sekali denganmu macam model iklan obat kumur itu!”.

Nggak lucu khan saat mengetahui si kawan itu tampangnya berubah menjadi seperti ini:

Covering Face

Funny Face

Dalam kesempatan lain, si kampret ini punya banyak sekali pengalaman yang tidak lepas dari urusan per-bau-an itu. Satu hal yang si kampret ini sadari bahwa tidak semua orang sadar kalau dia/dirinya itu: “Bau Mulut” dan sikat gigi 2 kali sehari saja tidak cukup. Berdasarkan pengalaman, ada beberapa rekan yang harus diakui kalau si kampret ini punya masalah serius dengan hawa nafas mereka, mari kita paparkan satu persatu;

Melanie Thoyle D’seborr, sebut sajalah begitu namanya. Mbakyu rekan sekantor ini, aslinya dari satu negara kecil di kaki gunung himalaya. Baik bener sih, santun orangnya dan bila ada perihal yang tidak dimengerti olehnya dalam urusan teknis pekerjaan, sering bertanya pada si kampret dan tidak akan dibiarkan dirinya pergi bila pertanyaannya belum terjawab. Ia rajin sekali nyerocos tanpa cape, bersuara lantang dan hobby sekali berbicara amat dekat. Sebenernya berbicara dekat sih tidak apa-apa, hanya problem itu timbul saat si Mbak Thoyle D’seborr doyan sekali memuncratkan gemercik ludahnya saat berbicara, mungkin perpaduan antara semangat berargumen, suara lantang dan diskusi jarak dekat itulah yang sering membuat si kampret ini agak mengernyitkan wajah karena tersimbah ‘hujan lokal’ itu. Ampun deh!.

Bicara anak buah atau para staff junior yang sering datang pada si kampret, baik untuk diskusi atau saat urusan pekerjaan lainnya dimana kita mesti duduk bersama bersebelahan, sebut saja si Mas-mas asli Tanzania ini dipanggil namanya: Patrick Ucinguering. Membawahi 3 staff, dimana 2 orang diantaranya adalah staff nasional setempat dan satu lagi adalah si Mas Ucingeuring ini. Entah apa sih yang dimakan sehari-hari olehnya, yang jelas saat si kampret ini berada dalam jarak dekat oelhnya, terasa benar lantang itu aroma persis macam cucian yang sudah direndam seminggu lamanya. Kacau deh!. Apalagi saat pasokan listrik genset di kantor mendadak padam dan biasanya sekitar 30-45 menit lamanya kantor dalam kegelapan, membuka jendela adalah solusi untuk menerangi ruangan, namun saat udara dari AC/Penyejuk ruangan ini mampus, ya mulailah kita semua keringetan dan si Mamang Ucingeuring ini mulai deh menyapa dengan bau badan bak cucian apek itu terasa nyaring, men!.

Bau-bau aneh lainya itu tidak hanya didominasi oleh mereka yang berkulit gelap saja, para ekspat bule pun bukan pengecualian. Sebut saja dia, Dmitri Khakushindromanov, anak dari Russia, meski dia tidak bau kelek sedikitpun, cuman ampun deh kalau ngomong sama dia itu persis seperti hidung ini ditempelin sepotong ikan asin tengik, yang kalau ngobrol kelamaan dengannya bisa membuat pusing nyut-nyutan kepala ini jadinya. Mungkin itu pengaruh dari minuman keras yang menjadi idola-nya, karena memang biasanya orang dari Russia ini gemar sekali minum vodka dengan ditemani sepotong acar ketimun atau panganan bercuka tinggi. Edun pisan, lah!.

Si kampret ini memang berusaha agar tidak menyinggung perasaan rekan-nya, dan nggak mungkinlah dia dengan tiba-tiba berkata: “Huah!, mulutmu bau banget!” atau sebagainya. Paling dia hanya sedikit terkejut, menahan nafas dan mengatur jarak yang aman, sembari sering menengok ke kanan keiri jika masih harus berbicara lebih lama lagi dengan mereka.

Group Discussion
Berbicara dalam hati: Saya tutup hidung saja, deh!

Group Discussion 2
Si Mbakyu berkata dalam hati: Bau kelek aman sih si Mas-mas ini!!#$%^

Itulah suka-dukanya berada dalam lingkungan bekerja multi-ras, yang kolega pada meja di sebelah kanan-kirinya bisa saja wangi badan-nya hampir setara kambing gunung atau saat dia berbicara dengan kita, lantangnya persis seperti seorang juru kampanye dengan menggunakan megaphone sambil iler-nya ikut muncrat dan banyak lagi kisah sontoloyo lain-nya.

Bagaimana dengan rekan-rekan disana?. Silahkan cerita ya dan bagaimana tips-nya dalam menghalau mahluk dengan aroma kakus itu?. :D

Harus diakui bahwa si kampret ini juga, tanpa disadari mungkin termasuk dalam golongan mahluk berbau aneh itu.. itulah sebabnya dia perlu sedia cukup permen karet dan obat kumur mini di dalam laci meja, jangan sampai saja ada orang yang semaput/pingsan dengan bau mulutnya :D

Dody Muhtar Taufik Dody Muhtar Taufik, currently holding a rank in Major Cavalry. Graduated in 1995 from Indonesia’s military academy, Possesses various military course to include Basic Armor, Staff Officer’s Course, Para Trooper and several other to include the latest in Civil Military...

Detail Profile »

12  Comments

by Pendekar Pembasmi Jigonx at 10 January 2010, 08:19

…BM alias bau jigonx emang jd satu hal yg sensitif dan bagi saya satu bagian penting dlm dunia yg berkaitan dengan komunikasi masa/publik, Kang..
pengalaman serupa sering pisan (aka. rutin tiap minggu malah) saya alami di tempat kerja saya sekarang, dan entah apa hidung saya yg kelewat sensitip mungkin, jadinya ‘alarm’ hidung saya langsung bisa deteksi org yg di depan or di sebelah saya yg lg bicara punya masalah dg bau jigonx…
pernah bbrp kali kali saking gak tahannya saya nahan2 mual pengen muntah saking tuh jigonx org di sebelah saya mabek sekali kayak bau cubluk dari jarian!! hueekkksss…
dan parahnya ini org duduknya sudah tetap di sebelah saya saat meeting management mingguan!!.amat sayang padahal dia ini seorang wanita pula dg jabatan cukup tinggi di kantor.
Saya jadi berpikir dg jabatannya dia tentunya gaji dia teramat cukup sekali buat sekedar periksa ke dokter gigi yg bonafid sekalipun, palagi skrg udah banyak salon khusus gigi or keren na mah “esthetic dentist”.

Pengalaman ketemu ama org2 yg punya masalah bau jigonx ini bukan di kntor yg sekarang saja, tapi di di tempat kerja sebelumnya pun sama… saya sampe hapal siapa2 aja yg bermasalah dg jigonx-nya, dan setelah saya amati nih org2 bermasalah dg jigonx-nya krn punya kesamaan sumber peyebab tak lain tak bukan, the one and the only mereka punya GIGI MATI, dan parahnya posisi nih gigi mati persis di jajaran gigi depan mereka, sehingga bila diamati lebih jauh penampilan gigi tsb emang tampak kusam, ada yg telihat berwarna gading kelam dan ada juga yg berwarna kehitaman plus kliatan ada bagian yg ‘ngadagleg’ nangkring entah apakah itu yg melapisi tuh gigi mati, dan sepertinya lapisan busuk inilah yg menjadi sumber mabeknya si jigonx tsb dan akan langsung terhembus keluar setiap ini org bicara….
nah gigi mati ini klo dibiarkan dan tdk ditangani oleh ahlinya akan terus membusuk dan memperparah konsentrasi & tingkat mabeknya si jigonx tadi…
Bagi yg sadar dirinnya punya masalah dg bau jigonx ini akan membuat yg bersangkutan jadi minder alias krisis pede seperti juga dialami oleh salah satu ibu pejabat di kntor saya tadi itu, dia cukup sering harus menghadiri meeting di luar dan akhirnya saat meeting dia suka memposisikan duduknya jauh dari org lain atau sebisa mungkin menyendiri menghindari berbicara dg org2 yg ada di meeting tsb….

Jadi, kayaknya bagi kita yang punya intensitas tinggi berinteraksi dg org lain harus tahan dan siap selalu dg serangan jigonx bau dr org2 yg jadi lawan bicara kita di mana pun…
dan buat jaga2 ada baiknya periksakan area rongga mulut kita secara rutin ke ahlinya, dan tangani secepatnya bila ada masalah dg si bau jigonx jgn biarkan parah…

***buat meningkatkan kesadaran orang akan bahaya jigonx bau ini sepertinya perlu jg dicanangkan secara resmi HBJB (Hari Bebas Jigonx Bau) sedunia yah !!!! ;))

peace….

by Lili Lengkana at 10 January 2010, 17:32

BMI singkatannya ya Kang…

by Agoy Yoga at 10 January 2010, 17:33

Hahaha…. memang tuh dalam kelas manajemen pernah dibahas, bahwasanya dalam kehidupan profesional ada hal-hal non teknis yang bisa mengganggu seperti misalnya BB, yang nggak enak atau pun yang sebetulnya wangi, tapi bau parfumnya nggak cocok ama kita dan adanya bikin pusing kepala, atau bau minyak rambut yang super ajaib. Saya pernah mengalami gangguan itu Kang, syukur dalam suatu kesempatan saya bisa sampaikan uneg-uneg itu dan masalah selesai. :)

by Dee Daniela at 10 January 2010, 17:34

Nama organisasi baru : IMO “International Mouth Odor” … wkwkwkwk

by Nofaldi Aldin at 10 January 2010, 17:41

“lain ladang, lain belalang, lain pula yang dihadang” :-)

by Irawan Setiawan at 10 January 2010, 19:41

La kok ya tega2 nya nunjuk si Kampret jadi jubir kelompok.. of course he didn’t “loud and clear” tapi mestinya kampret tetep PD, bunga di taman kan penuh dengan keanekaragaman harum semerbak he3.. harus sedia stok permen karet yg banyak pret ya..

by Nila Bahar at 10 January 2010, 23:43

Kang Luigi, ini adalah yang dimaksud kompetensi kemampuan beradaptasi, termasuk beradaptasi dengan beraneka ragam bau mulut and bau kelek. Tetap semangat Kang Luigi!!

by Onny Kurniasari at 12 January 2010, 19:52

Hai Lui, seneng aja baca artikel kamu :)
Kayaknya seru ya kerja dengan lingkungan multi ras gitu, tapi kalo masalah bau mulut sih emang ngebetein banget ya aplg bau badan..wah wah..

Jadi kamu ikut golongan yang mana Lui? Hahaha..
Moga kamu jadi yg paling wangi diantara yang lain ya, wakakakakkk..

Okay, keep writing sweet article Lui..

Rgd,
Nay

Sent from Nay’s Jave®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

by Diana Nugroho at 13 January 2010, 15:13

Manusia emang bau mulutnya. Ada yang bau busuk, karena giginya busuk atau lambungnya busuk, ada juga yang bau aduhai enaknya, seperti mulut bayi yang
baru lahir.

Bau mulut ini memang pernah bikin kami mabok di sini. Sumber kegalauan hati lahir dan batin staff seisi kantor kami ini adalah bau mulut direktur yang dulu, Romusha Kurapano-san. Supir pribadinya bilang malah baunya seperti bau bangkai ! Ajegile….

Nah, suatu hari temen si kampret ini tugas ke luar indehoy bareng pak direktur.

Si bapak yang – menurut pengakuannya kagak bisa cuci rambut sendiri tapi pelit sehingga hanya bersedia merogoh kocek buat ke salon 2 kali sebulan itu- ngomel gak karuan di dalam mobil. Karena duduk indehoy berduaan di jok belakang, maka semua bau pun pertama-tama ditembakkan ke temen si kampret ini. Bau rambut apek kronis, bau tembakau apek dari tubuh dan jasnya serta bau mulut mirip kumpulan tikus mati yang sudah membusuk.

Wuaddoooowwww!, Pengalaman itu bener-bener tak terlupakan, bahkan hingga hari ini.

Pak supir pun bilang,….‘Bu, saya sampai pusing banget bu… denger dia teriak-teriak di dalam mobil..tapi yang lebih pusing lagi bau mulutnya itu, bu….’ —->wuaaah bau bangke !.

Nah, kami, termasuk sekretarisnya yang pernah muntah-muntah karena bau mulut lelaki dambaan hatinya ini penasaran kok dia bau amat sih? Perkara bau rambut sudah pastilah,… karena beliau ini mengucapkannya sendiri walau tidak langsung ke masalah. Nah kalau mulut?

Ternyata si bapak bawel ini pengomel ini tidak menjaga kesehatan dan kebersihan. Selain jarang mandi, dia ini jarang minum air dan juga jarang makan. Kerjanya minum kopiiiiii terus. Kalau makan juga males..cuma sedikit
dan ogah-ogahan. Makan pagi gak pernah dan makan malem jarang kecuali nemenin tamu. Siang makannya sering terlambat dan paling cuma mi atau roti.

Hah, terbayang sudah di kepala kami, lambung dengan cairan hitam bak comberan ….

by Adjud Adjuri at 15 January 2010, 17:35

Selamat Berjuang di liberia, Salam dari Tanah Air Tercinta.

Sungguh Artikel yang menarik, walau aku belum bisa membedakan antara “ BAU MULUT DENGAN MULUT BAU

Bung Luigi, mohon tanya, adakah tentara kita di Haiti…lalu apakah mereka aman saja. Maklum gempanya saat fajar….saat tidur berada diambang akhir mimpi.
Walau hatiku sepenuhnya terus berdoa semoga para pembawa nama bangsa kita aman saja disana.

Salam dari Saudara sebangsa. kau memang tentara yg pintar mempersentasikan segala suasana menjadi indah …seperti buang hajat ditengah belukar Afrika berbekal tongkat.

Sehat selalu ya.
FB : Lymersth@yahoo.com….kalau bung Luigi berkenan Add ya.

by Midori Obata at 15 January 2010, 18:07

O.M.G!!!!!

Thought it only happens to me!! Hahahaha!!!

by Whisnu Kusardianto at 16 January 2010, 18:13

he-he kok sama ya masalahnya kang

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

628 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Sandy M. PRAKASA Graduated from Military Academy in 1997, then exposed to various deployments within the country and had attended several overseas military courses, Capt. Chb. Sandy M. Prakasa also enjoys traveling and photography. Currently acting as the Public Information Officer of the Indonesian...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Welfare Cruise Monusco Staff
Recreation is part of our duty as an implementation of implementation of stress management. It aims at performing better at work “Pablo, Bavon..yaka….viens, arrange this tables & chairs on the barge,... »
Lusyanto Januar , 8 hours ago

Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
Tepatnya di desa Cimquante-Cinq arah antara Dungu Faradje dimana lokasi Kontingen Garuda XX-G bekerja dalam membangun jalan Dungu Faradje, Komandan Kontingen Letkol Czi Arnold A.P Ritiauw dan personel Zeni TNI pada hari Kamis (19/8) membagikan baju baru kepada masyarakat Kongo yang berada dipedalaman, khususnya kepada anak-anak yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Sumbangan berupa baju ini diberikan dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-65, juga sebagai bagian dari Sargal (Sarana Penggalangan) terhadap masyarakat Kongo.
Agus Hermansyah , 7 days ago

Sertijab Bintara Tertinggi UNIFIL Lebanon
Pada beberapa waktu lalu, bertempat di Markas Besar UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Naqoura, Lebanon Selatan telah dilaksanakan acara serah terima jabatan FSM (Force Sergeant Major) atau Bintara tertinggi UNIFIL dari pejabat lama Master Warrant Officer Fremphah Mosses kepada Senior Warrant Officer Adong Yure Williams, keduanya berkewarganegaraan Ghana.
Muhammad Dahlan , 7 days ago

Pesiar Eksklusif di Sungai Congo
Sabtu sore dilanjutkan dengan mengunjungi teman – teman TNI yang baru pindah rumah, sampe berpesiar ke Sungai Congo di Minggu pagi. Nah, yang terakhir ini yang paling seru. Akhirnya, setelah Sari mengerahkan segala daya upaya untuk membujuk dua marinir Indonesia, Pak Amrin dan Bang Lusy (maaf ada tambahan: yang selalu ngaku – ngaku ganteng) dua marinir ini pun setuju untuk membawa kami berpesiar.
Nurul Fitri Lubis , 10 days ago

Upacara HUT RI ke-65 ditengah padatnya tugas FPU Indonesia di Darfur
Upacara internal yang kami gelar di lapangan Kamp Garuda ini sangatlah berkesan dihati sanubari kami insan Polri yang sedang menjalankan tugas misi Negara dan jauh dari kampung halaman sendiri. Dengan dikibarkannya bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian pembacaan teks Proklamasi dan teks Pembukaan UUD 1945 semakin menguatkan mental dan kebanggaan kami yang tengah mengemban tugas Negara ini.
Robertho Pardede , 12 days ago

 

Recent Comments

Dewi Yulia commented on Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
a few seconds ago


Tante YY commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


ghozy commented on Trekking ke negeri atap dunia
a few seconds ago


Mariani commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


khaidar commented on Madagascar bercerita: [Dilarang] Bercinta dibawah pohon kelapa
a few seconds ago