Afrika, benua yang sarat dengan sumber daya, Ya hasil bumi-nya, ya manusia-nya, wah pokok’e semua-muanya deh.. terlepas dari konflik bersenjata dan kekekerasan yang acapkali membuat banyak derita menjadi tak berujung bagi rakyat kecilnya, mereka adalah juga individu yang cinta kedamaian. Paling tidak itulah hasil patroli team kami ke berbagai pedalaman di Liberia. Sudah tidak terhitung lagi berapa ratus jam dalam sebulan bentang waktu explorasi kami keluar masuk hutan, kampung dan menjabat erat berbagai orang tetua kampung sampai ke anak-anak kecil pada setiap kunjungan kami.
Misi perdamaian PBB di Liberia bisa dikatakan misi perdamaian yang sukses, menambah jajaran jumlah keberhasilan PBB dalam memberikan kontribusinya pada proses perdamaian yang bersama-sama diupayakan oleh elemen rakyat Liberia, UNMIL dan pemerintahnya dalam merubah situasi pasca-konflik ini menjadi pembangunan dan rekonsiliasi.
Berbicara ratusan jam bentang waktu penjelajahan kami, sebagai perwira pengamat militer PBB, atau istiah keren-nya adalah UNMO (United Nations Military Observer) atau MILOBS, upaya pendekatan teritorial adalah kunci keberhasilan perolehan data kami dalam mendokumentasikan laporan yang didapat dari berbagai pelosok, kampung, yang mereka sebut dengan ‘Town’ meski hanya terdapat 2-3 rumah, lalu ‘City’ meski itu dengan penduduk berkisar 100 – 200 orang saja. Ya kita hormati saja-lah istilah mereka. Nah, ratusan jam keluar masuk pedalaman inilah yang akhirnya secara pribadi, telah banyak memberikan pelajaran penting akan bagaimana memahami karakter, kultur dan tradisi masyarakat di pedalaman ini, serta apa yang menjadi aspirasi mereka yang sepertinya selama ini masih kurang terakomodasi oleh mekanisme yang ada.
Memang, negara pasca-konflik seperti Liberia masih punya perjalanan dan perjuangan yang panjang sekali untuk kembali pada situasi/jaman keemasannya ditahun 70an itu.
Greenville, adalah kota dimana saya bertugas pad periode bulan Juni 2009 sampai Maret 2010, team pengamat militer UNMIL di greenville beranggotakan 7-8 orang perwira dari beberapa officer berbagai negara, Yaitu: Amerika, Serbia, El Salvador, Bangladesh, Nigeria, Pakistan, Ethiopia, Niger dan tentunya saya (Indonesia).
Meski terbilang cukup banyak anggota untuk sebuah team, acapkali jumlahkita di lapangan hanya 60 – 80% karena hampir setiap bulan anggota banyak yang mengamil cuti mudik ke kampung halaman-nya dan melakukan rehat CTO (Compensatory Time Off). Wajarlah, sebab beban psikis bekerja di pedalman begini persis seperti sebuah situasi operasi militer reguler, meski misi damai – tetap saja kondisi lapangan dan kesulitan penugasan mudah membuat kebanyakan individu menjadi —> bersumbu pendek! (Baca: Cepat Naik Darah).
Saya pun acapkali sering merasa penat secara psikis dan godaan kelakuan kawan-kawan itu ada saja yang mampu memancing emosi. Alhamdulillahnya, kontrol diri masih kuat dan mengalihkan selalu kejenuhan dengan cara: Memasak!. Ya, dengan memasak, buat saya itu mampu mengusir rasa kesal, dipadu dengan olah raga rutin, maka waktu berlalu cepat sekali tanpa stress yang berlebihan. Ohya, memasak disini artinya adalah:
“Kemampuan dan mood untuk mengolah makanan ala kadarnya menjadi bahan pangan yang bisa dinikmati satu team, rasanya cukup enak – untuk standar misi, harga murah dan semua perut itu terisi kenyang – soal resep bisa dikatakan 100% ngarang, asal jadi dan tepat waktu.”
Seingat saya, selama di tanah air, sepertinya saya amat dimanjakan oleh istri. Jadi menyentuh perkakas dapur adalah sangat jarang, kecuali memperbaikinya bila rusak – dan bukan untuk memasak. Nah, kalau sudah masuk penugasanmisi seperti di Liberia inilah yang memaksa bahwa setiap individu baiknya bisa mengolah makanan sendiri, bila tidak, maka “kantong” -nya akan mudah jebol karena harus selalau makan di restoran yang notabene bisa menghabiskan US$ 10 – 15 sekali makan – dewek!.
Sepertinya, hampir semua prajurit Indonesia itu faham sekali akan keberkahan alam yang ada disekitarnya, itulah mengapa sampai-sampai, team leader disini, seorang Kolonel senior dari Niger sempat berkata pada sang istrinya yang kebetulan kemudian meminta saya menjelaskan resep masakan “asal-jadi” ini melalui percakapan telepon, agar saat dia cuti mudik nanti menginginkan istrinya bisa masak seperti saya. Sampe segitunya ya?.
Namun, masih ingat bener apa yang dikatakannya saat memperkenalkan kepada istrinya, begini dia bilang:
“Honey, I have this officer in my team, a very good cook, he just can create anything fom the trees and plants surrounding our camp.. I want you to talk to him as I asked him to explain to you a recipe he just made.. Ok? – Get a pen and paper now – quick!”.
Oke, sebentar dulu ya, boleh saya menjelaskan satu hal dari komplimen yang berlebihan dari si bapa-bapa itu tadi. Adalah lumrah bagaimana senangnya orang bila usai kembali dari patroli menembus jalan berlumpur dan kemungkinan diperjalanan sempat selip masuk kubangan, mendapati diri kembali dari lebih dari 1/2 hari keluar masuk hutan dengan perut lapar dan melihat hidangan makan siang/sore tersedia di atas meja – Itu pertama. Lalu, kedua, Liberia ini berada pada garis khatulistiwa yang iklim dan vegetasinya adalah relatif sama dengan Indonesia, jadi tanaman singkong, Pisang dan lain sebagainya tumbuh subur disini.
Jadi, daun singkong, ubi jalar manis, buah sukun, pepaya, nenas, serta dedaunan segar itu mudah dijumpai, meski berbeda sedikit bisa di-improvisasi menjadi lalapan segar atau dibuat sayur – meski untuk lidah Indonesia, rasanya jelas menyimpang. Untuk personil di daerah misi – itu masihlah bisa diterima meski harus dikunya, soalnya berserat dan agak liat/kenyal. Dan yang ketiga, menu yang disuguhkan adalah tidak lain dari: Sayur pepaya muda dengan bumbu instan ala Indonesia, diniati sebagai sayur asem, lalu Urap Daun Pepaya Muda dipadu Daun Singkong yang direbus lebih dahulu dengan irisan bawang, serta sedikit garam dan merica lalu ditaburi dengan parutan kelapa. Untuk lauk, dari ransum ayam beku itu diolah menjadi ayam goreng ala kalasan dengan bumbu instan dari bahan bekal saat cuti mudik waktu itu.. dan tidak ketinggalan sayur-sayuran lokal yang sekiranya bisa direbus dan dioleh sebagai gado-gado, secara saya memiliki 4-5 bungkus bumbu pecel padat yang masih tersisa. Itulah rahasianya.
Namun demikian tidak setiap kali, session demo-masak ini berhasil (kalau diukur secara standard Indonesia). Dalam sebuah patroli, suatu hari saya sempat mampir ke pasar tradisional setempat, lupa nama desanya, disana tidak terlihat adanya sayur-sayuran berdaun hijau, yang ada hanya biji kelapa sawit dan semacam terong-terongan yang orang sana menyebutnya dengan nama: Okra.
Okra sejenis terongkecil warna hijau berbulu halus dijual seonggok 3-4 biji untuk ukuran besar seukuran 2 jari. Murah memang, dan hanya itu yangtersedia. Saya harus memutuskan untuk beli atau tidak, jika tidak pun sudah sore dan belum tentu menjumpai pasar lagi setelah ini. Maka dibelilah secukupnya.
Usai patroli, tiba compound pukul 3 siang, dan santap siang pun sudah tersedia. Kali ini yang memasak adalah perwira dari Nigeria. Alhamdulilah cukup kenyang meski rasanya dilidah ini ngak keruan. Niatnya memasak nasi goreng ala Nigeria, namun entah mengapa si lidah ini menterjemahkan masakan itu sebagai nasi yang dicampur aduk dengan saus tomat dan lada hitam saja. Sudahlah, yang penting energi masuk.
Saya lanjut ke dapur sekitar jam 4 sore untuk mempersiapkan makan malam, dengan ide ingin memasak sayur bening seperti ditanah air yang menggunakan terong jenis “oyong” – namun ditangan ini yang ada hanyalah si “Okra” tadi. Ini adalah kalipertama saya menemukan dan memasak Okra,jadi dibenak ini selalu terbayang sayur bening oyong. Begitu usai dipotong , mempersiapkan bumbu dan menyalakan tungku arang.. (ya, kita disini masak-masak dengan kompor arang!).
Mulailah mengolah bahan dan saat panci air itu mendidih,maka masuklah semua bumbu yang sudah sebelulmnya ditumis: “plung..plung..plung..”, dijeburinlah semua itu.. sembari diaduk lalu akhirnya masuklah si irisan Okra tadi dan terus diaduk.. lalu ditutuplah panci tadi dan ditinggal sebentar.. bergegas ke kamar.
Eh, begitu kembali dari kamar dan melihat si maskaan itu, ternyata si sayur bening Okra tadi bukanlah berujung seperti sayu bening oyong tadi.. kuah sayur Okra menjadi pekat kental.
Gambarannya seperti irisan terong okra yang dicampur dengan 1 liter air liur sapi! … sikuahnya kental sekali akibat getah terong okra ini yang bila terus digodok sayurnya maka si kuahnya akan menjadi lebih kental lagi.
Alamak, mati deh awak ini.. apalagi orang-orang itu sudah bulak-balik ke dapur menanyakan kapan bisa dimulai si makan malam ini. kalau dari rasanya sih cukup menyamai enaknya… sayang kalau dibuang, dan tidak ada makanan lagi. Capek rasanya kalau harus memulai yang baru dan masak dengan arang itu sungguh menjengkelkan.. kalau bara terlalu panas ya harus diangkat jauh dari panggang, jika tidak gosong dan harus teurs mengipas-kipas. Sebel khan?.
Ah, sudahlah – mereka dikasih makan ini saja.. secara komentar si Nigeria itu berkata: “Enak..enak..meski pekat kuahnya..” – berarti mereka lain-nya akan berkata serupa. (Tapi Bu’e – Masakanmu di rumah memang tidak ada yang bisa mengalahkan, kok!)
Ternyata, kemahiran masak darurat ini, cukup ampuh untuk membuat kinerja team menjadi solid, karena mereka faham pada saat giliran saya piket menjadi tukang masak di compound, mereka menjadi bersemangat untuk pergi keluar patroli dan kembali pulang tanpa wajah yang masam dan nggak lagi pake marah-marah meski mobilnya hampir kejebur masuk sungai.











Asante sana (kswahili), aad baad u mahadsantahay (somali), terima kasih banyak share-nya ya… Tulisannya membuatku semakin minder buat menulis ;)) wah payah aku ini, bukan makin terpacu malah makin minder;))
Ayooo… Kapan bergabung di somaliland? Sendirian nih warga indonesia di sana :(
Salam hangat drku yg sudah seminggu lebih berada di nairobi – kenya di rumah martha huester :)
-irene sirait
Pak Dicky, minta kirimin saja sambal bajak atau bumbu2 instan lain, distok sampe 1 koper hehehehe, biar rasanya mendingan. Semoga Tuhan selalu melindungi dan melancarkan semua penugasan Pak Dicky di medan operasi.
Mas Dicky, tu okra kesukaan orang jepang lho! disini jadi demenan deh.. trus kayak keluar liur2nya gitu, dipake buat jadi dressing. Saya sih ga doyan.. hehehehehe… Disana bisa dipake jadi sambel bajak ya? Biarpun cuma makan okra, yang penting kerja jalan terus
Tetap semangaaatt ^^
Garuda…salam hangat dari Indonesia… Hebat sir okranya..kayak memasak ala chef terkenal “Rudy Choiruddin” dong! Two thumbs up!