Menjadi Relawan PBB merupakan suatu kesempatan yang buat saya perlu sangat disyukuri. Kesempatan bekerja pada misi PBB ini juga merupakan kemurahan dariNya, dimana bergabung dan belajar banyak pastinya untuk si kencur yang masih ingusan ini (Maklum lagi terkena flu karena pancaroba musim dari panas ke dingin walaupun hanya dirasakan pada malam hari aja) bertugas di Negara Bau Kelek Sudan ini.
Meski dirasa belum lama berselang, namun rasanya sudah lama juga, yaitu pada bulan Mei 2008 lalu adalah saat pertama kali menginjakan kaki tiba di medan Peacekeeping Mission yang kemduian menjabat sebagai Movement Control Assistant pada Misi Hybrid (gabungan) PBB/AU di Darfur – yang notabene sudah pasti tidak terbilang jumlah suka-duka yang telah dialami selama ini. Dari masalah pekerjaan hingga masalah dapur, kasur serta” bantal-guling” (Apa maksudnya ya”?).
Disela-sela waktu bekerja tempo hari, masuk diterimalah sebuah email dari security officer mengabarkan urusan tetek-bengek perihal keadaan keamanan dan seruan keselamatan ditujukan kepada semua staff UNAMID. Terlepas dari suka-tidak-suka atau mau-tidak-mau, seruan ini merupakan perintah wajib dikerjakan para staff misi; baik sebagai DPKO staff maupun Humanitarian Staff dan urusan yang harus dilakukan pada urutan nomer wahid sebelum memulai aktivitas.
Semua staff, baik yang sudah berada lumayan lama dan terutama mereka yang baru tiba di daerah misi, wajib mengikuti sebuah trainning dengan judul: Safe & Secure Approaches to Fields Environments (SSAFE). Nama si kencur ini muncul dalam deretan daftar nama peserta. Perasaan sih dulu udah pernah ikutan, mengapa nama saya muncul lagi untuk ikut kembali pelatihan yang sama. Setelah tanya kesana-kemari kepada rekan di Security Section, kemudian diberitahukan bahwa training ini harus diulang setiap 2 tahun sekali.
Wah, mau nggak mau deh!. Akhirnya berangkatlah si Kencur ini untuk dua hari. Pelatihan itu diadakan pada ruangan kelas yang telah ditentukan, Workshop ini dipandu oleh United Nations Departement of Safety and Security bersama dengan Security Trainning and Development Unit pada tanggal 8 & 9 November 2009 bertempat di UNMIS Headquarters di Khartoum Sudan.
Training ini tidak saja di ikuti oleh staff yang baru tiba, namun juga peserta banyak juga berasal dari unsur Civilian, UNPol, dan Military. Sudah bukan hal yang baru lagi bahwa berdasarkan pengalaman di lapangan bahwa instalasi, dan personil United Nations sangat rentan untuk menjadi sasaran utama dari penyanderaan, pengeboman dan penyerangan (Hostages, Bombing, and Ambush,etc).

Foto diambil dari markas UNMIS di Abyei – Asap mengepul pengeboman
Pada beberapa lokasi misi PBB tertentu, seperti yang baru saja kita dengar, para sahabat maupun rekan kita di Afghanistan menjadi sasaran bom bunuh diri dari pihak-pihak yang secara politik berseberangan dengan keberadaan maupun peranan United Nations/PBB di negaranya. Dalam hal ini, semua staff mision, termasuk itu para Relawan PBB , kita di bekali dengan beberapa training dalam menghadapi masalah resiko bahaya di lapangan tersebut. Ya, setidaknya faham apa akan resiko yang mungkin terjadi dalam bekerja dilapangan dan bagaimana upaya terbaik untuk menyelamatkan diri.
Dalam pelaksanaan workshop ini kita akan di ajarkan hal-hal yang sepatutnya boleh dilakukan dan tidak dilakukan bila berada dalam situasi yang kritis, dimana kemungkinan seperti ini bisa saja dialami saat menjalankan tugas di lapangan baik secara personal maupun team.
Pengalaman yang bisa dipetik selama si Kencur menjalankan workshop ini, salah satunya seperti; cara-cara, sikap kita dalam menghadapi situasi dibawah tekanan seperti penyandraan, penyergapan, memasuki daerah-daerah masih beranjau, hingga pemahaman terhadap kebudayaan dan kebiasaan masyarakat daerah setempat yang akan menjadi wilayah tugas United Nations/PBB yang dimaksud dalam tulisan ini merupakan unsur Mission Staff dan Aset milik UN yang acapkali menjadi sasaran utama dari pihak tertentu.
Jangan kira kamu akan aman-aman saja, ndook!
Mentang-mentang Helm kamu bersarungkan warna “UN Biru” itu
Perihal safety and security merupakan tanggung jawab kita pribadi, selain juga merupakan tanggung jawab personil Security & Protection yang mengemban tugas untuk itu. Meningkatkan kewaspadaan diri, seperti dikatakan oleh orangtua kita “pergi dan pulanglah dengan selamat” sehingga pada akhirnya kita dalam mengemban tugas pada misi perdamaian PBB ini senantiasa dapat kembali berkumpul dengan selamat bersama keluarga di rumah di tanah air, yang terus menanti kita.
Ancaman terhadap si helm Biru itu adalah memang bagian dari resiko profesi sebagai peacekeepers, baik personil sipil dan militer, kita sama-sama menghadapi resiko tersebut, dengan meingkatkan kewaspadaan dan menaati panduan keselamatan & kamanan staff sesuai digariskan, niscaya dengan dibantu doa, kita bisa sukses mengemban misi mulia ini. Tidak lupa juga, saya ingin mengucapkan selamat bertugas kepada para rekan senior, rekan sejawat sekalian dari keluarga Merah putih. Teruslah berkibar demi kejayaan Indonesia pada misi PBB ini.






Dear Puguh, seneng mbaca updatemu lagi..seperti kita senantiasa diberitahu bahwa keselamatan adalah yang utama dalam bertugas. Didoakeun dari Liberia agar Puguh dan kawan-kawan keluarga besar Garuda Merah Putih di Darfur senantiasa dalam lindungan Alloh SWT.
Dear Sweetheart,
Semoga pa selalu dalam lindungan Allah SWT dimanapun pa berada. Jangan lengah dan terus waspada. We are waiting for you. Love you.
Maman kok fhoto gw yg di pajang..wakakaka, ngk papa d numpang ngetop ..
Hi Guh………
wuih……..serem juga ya. terus semangat!. btw, model fotonya kayaknya aku pernah kenal?!. Let’s me think a while……………ehmmmm….seseorang yang dulu ngakunya Bupati Nias ya? hhaha
Dear Puguh,
Artikel yang sangat bagus, a motivating one.
Stay safe there.
Salam dari teman-teman UN WFP Indonesia untuk teman-teman di sana
hope everything is running well, sampai bisa pulang kembali ke indonesia..iam proud of you friend..!