Memang pada pagi hari itu, si kampret ini tidak sempat menyisir dan mebaca email-email yang masuk. Sudah ad sekitar 50-an lebih masih berstatuskan unread dengan tulisan cetak tebal, beberapa diantaranya bertajuk: “Urgent”. Benar adanya, pagi itu dengan secangkir besar kopi tersaji diatas meja, sudah mulai berkutat dengan beberapa berkas tender dan hasil evaluasi tender minggu lalu. Konsentrasi menjadi buyar dikala telepon di meja itu bordering, dilirik dari display layar digital disana tertulis identitas penelpon adalah si karib dari Transport Section, ada apa gerangan pagi-pagi begini dia sudah menghubungi?.
Apakah Driving Permit saya ini dicabut (karena kedapatan ngebut tertangkap sensor speed gun operasi razia battalion Polisi Militer kontingen Nepal itu), atau apalagi nih?.
“Hello, good morning Louis.. I was just thinking about you..!”, sambut si kampret ini dengan nada antusias yang kentara dibuat-buat itu.
“Really?.. well then, I’ve got news for you then..” balasnya dengan tidak kalah semangat..
“Hold on there.. is it bad news or a good one?, if this is a bad one.. call back next week.. the person is on-leave, I am just a person hired to attend his telephone..” jawab si kampret ini sembari tersenyum renyah.
Louis adalah karib si kampret ini, dia adalah kolega kental yang sudah bertugas di UNMIL 6 bulan lebih awal dari si kampret ini, dia aslinya berasal dari Republique du Mali, sebutlah saja (secara ngaco) namanya Louis Tetenene-Nene.
Dengan logat berbahasa Inggris ala Prancis-Afrika yang ditellinga ini si huruf “R” itu terdengar cadel benar, ia menjawab;
“No worries, monsieur.. I am calling to let you know that your name is listed for tomorrow’s All-Terrain Driving Test..”
“Ouw.. is that so?.. and by being listed in this training means that my mission’s driving permit will be revoked if I fail?” – bertanya dengan kedua alis ini ikut naik tanda keraguan yang amat serius.
“Monsieur, I am afraid you are right.. so please make sure you are present tomorrow, d’accord?”
Nampaknya si kampret ini tidak punya pilihan lain selain harus hadir dan mengikuti training mengemudi itu, maka ia pun menjawab: “Oui, monsieur..”
Apa sih “All-terrain Driving Test” ini sebenarnya?. Test ini adalah serangkaian ujian mengemudi yang diprasyaratkan kepada staff UN Mission agar faham saat nyetir kendaraan operasional milik UN dengan baik dan benar, khususnya berkendara di medan yang tidak rata (off-road).
Meski si kampret ini tidaklah sering mblasak-mblusuk nyetir ke kampung pedalaman Liberia yang notabene jalan menuju dan kembali ke Monrovia harus bertemu kubangan dan bisa jadi sempat terbenam didalamnya, nah dengan ujian ini, bisa mampu mengemudi dengan baik (Baca: Tidak menceburkan mobil kedalam sungai).
Ternyata tidak mudah lho!
Sudah menjadi kebijakan pihak Mission’s administration yang memprasyaratkan bahwa barang siapa yang tidak lulus sudah pasti tidak akan diperpanjang UNMIL – SIM/Driving Permitnya. Nah kalau seorang staff mission sudah nggak punya Driving Permit, artinya sudah pasti: Mati Angin dan Mati Gaya!.
Dia akan bergantung pada belas kasihan dan kelonggaran waktu koleganya untuk mengantar pergi kesana-kemari, meski si kendaraan kantor itu sedang nganggur.
Keesokan harinya, kita serombongan sekitar 25 orang dibawa keluar kota dengan 8 kendaraan Nissan Patrol ke suatu tempat tidak jauh dari pantai, disana ada sebuah gudang kosong dimana kompleks bangunan disebelahnya adalah sebuah transit camp yang sedang dihuni oleh kontingen mekanis dari battalion Nigeria.
Instruktur All-Terrain Driving kita saat itu adalah si Phrachaap, sebut saja secara sontoloyo nama lengkapnya Phrachaap Rajakashboun, seorang bapa-bapa setengah hampir setengah baya warga Negara Thailand.
Didalam gudang kosong itu sudah tersedia sebuah kerangka dan roda-rodaan yang menggambarkan sebuah kendaraaan, lalu sibuklah dia menggambar dilantai dengan seutas kayu arang seraya menjelaskan system transmisi kendaraan double gardan, begitulah.
Lepas penjelasan, masing-masing dikelompokkan dalam 5 grup beranggotakan 5 orang, diberi tugas untuk mencopot dan mengganti ban secara berkelompok, nah kalau sudah seperti ini, nampaknya jelas staff wanita yang ada waktu itu hanya duduk manis sambil menunjuk-nunjuk kita para pria untuk mengerjakan-nya. Ternyata mengganti ban-mobil dan pekerjaan jadi tukang tambal ban itu bener-bener membuat keringat ini mengucur deras dan tangan ini sudah pasti kotor teu-pararuguh!.
Dibawah terik matahari yang menyengat, bergantian 3 orang dari kita masuk mobil dan bergantian mengemudikan satu track-off road terrain yang sudah disiapkan, seru pisanlah pokoknya, baik pengemudi dan penumpang yang ada didalam si Nissan Patrol itu meski sudah diikat dengan sabuk pengaman, tetap saya terguncang-guncang sambil sang instruktur beteriak-teriak agar tidak kalah dengan deru mesin yang harus dipatok diatas 3000rpm saat berkendara dengan “differential lock-engaged” melompat-lompatlah si kendaraan diatas medan yang terjal dan kemudian tiba-tiba menjadi menukik.
Pelajaran berikutnya adalah menggunakan tali derek atau Winching, sembari si mobil yang diderek dibenamkan sedikit dengan menggali pasir dibawahnya, wah pokoknya kerja keras dan sambil dijemur terik-lah, eduun – man!. Untuk temen-temen militer dari beberapa anggota kontingen yang hadir saat itu, urusan mobil terbenam dan Derek-menderek mah sudah jadi makanan sehari-hari nampaknya.
Juga tidak lupa untuk mengucap terima kash kepada instruktur serta 2 asisten instruktur yang telah sigap membantu.
Tentunya lepas semua mendapat giliran menjadi pengemudi dan penumpang di areal track ajrut-ajuratan itu, lalu acara Derek menderek, maka usai sudah program All-terrain Driving Test ini, syukurnya semua peserta lulus dan direkomendasikan untuk mendapatkan perpanjangan UNMIL Driving Permitnya masing-masing. Ohya, ini dia foto wisuda-nya :D
Mahir berkendara all-terrain?. kalau begitu sudah siap untuk bekerja di misi pemulihan perdamaian PBB? – ayo kalau begitu, bergabunglah bersama kami.










Recent Comments
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago