Harap-harap cemas itu selalu datang.. apalagi menginjak bulan ke 5 penugasan di Liberia ini. Apa pasal? Jumlah perwira TNI yang ditugaskan sebagai pengamat militer (Military Observer) pada misi pemulihan perdamaian PBB di Liberia (UNMIL) sedianya berjumlah 3 personil – diwakili oleh masing-masing angkatan (AD, AU, dan AL) mengalami pengurangan personil, khususnya pada Kontingen Garuda Serie XXI-6 , ya pada periode saya ini.
Setibanya saya di Liberia, perwira senior/Komandan Kontingen Garuda XXI-5, yaitu Let.Kol Joseph Rizki Prabowo sedianya akan kembali pulang ke tanah air, purna tugas pada bulan November 2008 tempo hari, karena situasi dan jadwal repatriasi yang sudah diatur oleh pihak UNMIL, hanya menyempatkan untuk bertemu satu malam saja untuk serah terima dan briefing informal. Keesokan harinya beliau terbang ke tanah air, menyisakan 2 anggota kontingen lainnya, yaitu Let.Kol Agoeng Satiawan Poetra dan Major Tusih Widayat dengan jadwal repatriasi jatuh pada 3 minggu setelah itu.

Seiring dengan pulihnya situasi dan stabilitas di negeri ini, pengurangan jumpah pasukan peacekeepers/penjaga perdamaian berangsur-angsur ditarik dan dikurangi jumlahnya.. terlihat pula dengan banyaknya pos penjagaan (check points) yang ‘gulung tikar’ dari berbagai sudut dan sisi jalan di Monrovia, serta pada penghubung jalan antar kota yang sebelumnya dijaga ketat oleh pasukan PBB yang bertanggung jawab terhadap area tersebut, kini menjadi dijaga oleh polisi nasional setempat. Seperti terlihat pada foto dibawah ini, pusat kota Monrovia, kita menyebutnya Monrovia Downtown sudah terlihat hiruk=pikuk ramai akan kegiatan berdagang normal.

Pengurangan kekuatan militer peacekeeping PBB di Liberia ini juga berdampak pada jumlah personil pengamat militer (Military Observer/MILOBS), dan Kontingen Garuda di UNMIL akhirnya menerima keputusan pihak misi bahwa Indonesia, dari jatah biasanya diwakili oleh 3 perwira kini dikurangi menjadi tinggal 2 perwira saja.. dan inilah saya, perwira pertama dari kontingen serie garuda XXI-6 yang sudah menjejakkan kakinya disini.. lalu kemana perwira pengganti yang kedua?.
Sejak kepulangan Bang Agung dan Bang Tusih ke tanah air, satu bulan berselang.. tidak ada mendengar khabar siapakah yang akan dikirim oleh PMPP/Peacekeeping Center TNI untuk bertugas di misi di Liberia.. lalu bulan ke dua berlalu. Di penghujung tahun 2008, sudahlah pasti bila tidak ada khabar ini alamat hanya saya sorangan yang menjaga gawang sekaligus mewakili militer Indonesia di UNMIL.. payah dong!.
Setelah hampir 4 bulan menunggu, sembari menjalani aktivitas dan tugas sebagai military observer, akhirnya awal bulan Februari, terdengar khabar dari Jakarta, bahwa seorang perwira akan datang ditugaskan untuk Liberia. Tersenyumlah diri ini mendengarnya, namun kemudian pertanyaan itu muncul: Siapakah perwira tersebut dan kapan dia akan tiba disini?*. Sebenernya sih banyak pertanyaan lain yang menyangkut kedatangan perwira tambahan itu di Liberia. Mengingat nasihat dari kontingen Indonesia pendahulu dihimbau agar rumah Indonesia dibilangan Sinkor area agar dipertahankan sebagai home-base.
Mempertahankan sewa rumah di Monrovia, sementara juga harus menyewa rumah kontrakan bersama di team site bukanlah menjadi hambatan, bilamana jumlah personil perwira Indonesia terbilang minimal 2, dari sisi kepraktisan dan pengeluaran biaya, tentunya ada konsekwensi yang mengikutinya. Namun biarlah, nasehat itu tetap saya jalani.
Nama itu kemudian muncul, beberapa kawan di Peacekeeping Center TNI kemudian memberitahu, bahwa perwira tambahan dari TNI yang akan ditugaskan ke UNMIL adalah: Major (Mar) Dicky Harwin Wijanarko. Hanya saja kelengkapan dokumen, terutama otorisasi dokumen perjalanan dari UN Headquarters di New York belum kunjung turun dan diterima.. jadi nggak sih si abang Dicky ini datang?.. sementara posisi saya waktu itu masih berada di Greenville yang notabene dipedalaman Liberia.


Koordinasi intensif, via telepon dan email terus dilancarkan. Saat sedang cuti CTO local di Monrovia, tidak terkecuali untuk menindaklanjuti dan berkoordinasi agar bisa menyambut kedatangan beliau, apalagi Bang Dicky adalah perwira yang lebih senior dari saya..
Pada awal Maret 2009 yang baru lalu ini, berbarengan dengan jadwal cuti rekan sepenugasan ke Jakarta, Kang Luigi, mendapat khabar bahwa beliau akan terbang bersama. Secepatnya mengetahui rute penerbangan yang dilaluinya berbarengan, yaitu: Jakarta – Dubai – Accra – Monrovia, dalam hati ini menjadi lega. Mengapa? Karena rute penerbangan itu adalah rute yang memudahkan dan menggunakan maskapai penerbangan yang nyaman. Tidaklah serupa dengan cerita keberangkatan saya.. perjalanan Bang Dicky kali ini, nampaknya akan mulus dan nyaman.
Pada 17 Maret 2009, pukul 3PM – bersama rekan staff local dari kantor si Kang Luigi, berdirilah kita di depan terminal Roberts International Airport, Bandar Udara Internasional-nya Liberia. Hormat dan salam selamat datang akhirnya menjabat langsung beliau; “Selamat datang di Monrovia, mentor!” – dengan didalam hati saya berseru: “Akhirnya datang juga dia ke Liberia…”

Sepanjang jalan dari bandara menuju tempat akomodasi/Rumah Indonesia – seru sekali mendengar cerita perjalanan yang disampaikan-nya, dari mulai pengurusan dokumen perjalanan, menghadap para perwira senior, berangkat ke bandara, cerita saat transit dan lain sebagainya, ditambah lagi penjelasan singkat akan laporan situasi serta gambaran detail penugasan mewarnai obrolan kita dijalan.
“Selamat datang di Rumah Indonesia, mentor..” – ini tempat tinggal kita selama bertugas di Liberia dan biasanya kita berada disini manakala sedang cuti dari team site. Jelaslah kondisinya berbeda dan jauh dari nyaman, namun inilah yang terbaik yang kita bisa nikmati disini.

Dibelakang dapur yang masih terlihat pabalatak (Baca: Berantakan), akhirnya Kang Luigi berseru: Ayo, kita berfoto dulu menandakan hari pertama Bang Dicky menginjakkan kaki disini:

“Mentor pasti lapar.. kebetulan saya masak sup ayam.. ini dia!”
“Sun, kok agak hitam sepertinya gosong begitu deh..”
“Siap, waduh.. sepertinya kegosongan..! – kita makan diluar saja kalau gitu..”

Sebelum pergi makan sore di restaurant, memberikan penjelasan dahulu akan perihal urusan sewa rumah, penanggungjawab atau juragan kontrakan serta fasilitas rumah, lengkaplah sudah gambaran situasi baginya tentang bagaimana menjalani hari-hari berikutnya, mengingat saya harus kembali terbang ke Greenville pada esok harinya.

Tenang sudah hati ini, dan senang pula mengingat saya tidaklah lagi sendirian di Liberia. Keesokan harinya, sebelum terbang kembali ke Greenville, saya meyakinkan beliau:

“Bang, selamat bertugas.. jangan pikir-pikir terlalu serius, kita berada ditengah saudara disini… Ada 3 staff sipil Indonesia juga bertugas, termasuk Kang Luigi yang sudah mendampingi penerbangan abang hingga sampai ke Monrovia..”
Harus diakui bahwa penantian dan sibuk koordinasi kesana-kemari tempo hari itu tidaklah sia-sia dan akhirnya dia datang juga.
iya akhirnya dtg juga…;p
selamat bertugas..
Selamat Den … akhirnya ada tempat berkonsultasi … Salam hormat buat bang Dicky … Enjoy African bush meat … he he he
Selamat bertugas.
hemm…selamat bertugas ajah, semua disana saudara….so jgn merasa kesepian yah…
mizz me… :P