Kukatupkan kedua telapak tangan ini kewajah sambil menarik nafas sedalam-dalamnya. Kutekan sekuat mungkin dengan harapan kejadian yang sedang kualami ini bisa berubah menjadi sebuah mimpi, mengharapkan ku terbangun dari mimpi itu dan berlari kembali kekebahagiaanku. Tetapi semakin ku berusaha semakin dalam pula pikiran dan jiwa ini terhanyut dalam kenyataan bahwa hari ini kebersamaan bersama keluargaku tercinta berakhir untuk sementara waktu. Aku harus kembali ketempat penugasan untuk melaksanakan kewajibanku sebagai Perwakilan Negara dan Institusi di dalam MISI PBB. Batinku serasa berontak, tidak rela untuk meninggalkan peran yang baru saja kunikmati selama 25 hari sebelumnya sebagai seorang ayah, pemimpin, teman, guru, penjaga, pelayan dan pengasuh bagi istri dan anak-anakku. Mata juga seakan-akan tidak lagi bisa diajak berbohong untuk tidak berkaca-kaca yang bisa menarik perhatian orang disekelilingku.
Malu kan kalo ketahuan orang!, demikian dengan tak terbendung sang Wibawa berbisik. Aku kan manusia yang perkasa, ksatria pejuang yang penuh semangat, pantang menyerah, rela berkorban jiwa dan raga, tak pernah berkeluh kesah, sigap dan cepat untuk selalu tampil membela Bangsa dan Negaraku tanpa pamrih. Sedemikian hebatnya sikap itu melekat dikepalaku yang selalu mengharuskanku untuk menjaga penampilan di depan umum. Tetapi ternyata kata hati dan batin lebih dalam dan tak pernah bisa mengingkari keadaan bahwa aku juga adalah seorang manusia biasa yang sekali waktu juga punya rasa haru.
Tangisan sang “Jagoan Kecilku” saat perpisahan di Bandara terus terngiang-ngiang di telinga yang membuatku tak lagi peduli dengan Ajuran Keselamatan Penerbangan yang diberikan oleh Pramugari-pramugari cantik nan lentik sesaat sebelum pesawat lepas landas. Terbayang tatapan sepasang bola mata kecil dihiasi air mata yang sedang meraung-raung dilantai karena tidak rela untuk berpisah dengan sang Ayah. Kutampilkan sosok sang Ayah yang tegar, meraihnya dalam pelukan dan menciumnya berkali-kali, membujuknya supaya berhenti menangis, melantunkan kata perpisahan dan berjanji bahwa sesegera mungkin sang Ayah akan kembali dengan membawa seluruh isi dunia untuknya. Berat rasanya untuk melakoni peran itu tetapi apa boleh dikata, Sang Maha Sutradara telah menggoreskan alur ceritanya. Kulambaikan tangan kepada Istri dan Putri tercinta yang sepertinya sudah lebih mengerti bahwa perpisahan ini juga untuk kepentingan mereka dan hanya untuk sementara waktu, walaupun dari dekapan erat yang enggan untuk dilepaskan yang baru saja mereka berikan mengisyaratkan bahwa mereka juga tak rela untuk berpisah.

Sesaat sebelum berpisah di Bandara Soekarno-Hatta
Ikatan Seatbelt Kursi pesawat sepertinya menjadi sangat kuat membenamkan dan mencengkram tubuhku, semakin dalam dan semakin dalam. Berkali-kali kutarik nafas dalam untuk menyegarkan tubuhku dan mengusap wajahku serta kembali berharap kejadian ini hanya mimpi belaka. Semakin ku berusaha semakin dalam pula gambaran perpisahan itu merasuk kedalam pikiranku. Tak lagi terkalahkan oleh fenomena sederetan Pramugari-pramugari cantik yang lalu lalang dengan senyum manis menyapa setiap Penumpang dan menawarkan Flight Service. “Vegetarian or not Sir????” langsung kutimpali dengan “No thanks, you can skip me this moment” sambil berharap ia akan mengerti bahwa “Mood for food” ku saat itu sangat rendah. Kenangan kembali berbisik bahwa makanan masakan istriku berkali-kali lipat lebih enak dari makanan yang disodorkan di pesawat. “Hhuuuuuufffttttt……. Harus nahan selera lagi nih untuk beberapa bulan”. Cerita demi cerita yang kulewati selama Cuti terlintas kembali dalam pikiran kala ku coba utk memejamkan mata. Saat senang saat sedih, saat marah saat tertawa, saat gesit saat terlelap, terputar silih berganti seperti sebuah kilasan Film kehidupan pada sebuah Layar raksasa.
Sepertinya baru kemarin, kurasakan dekapan tangan kecilmu di tubuhku kala menjemputku di Bandara bagian Kedatangan tetapi hari ini engkau harus melepas dekapan itu kembali di Bagian Keberangkatan. Sepertinya baru kemarin kubawa dirimu serta melakukan serangkaian perjalanan untuk menggores cerita-cerita indah ke beberapa tempat rekreasi, tetapi hari ini dan untuk sementara waktu, event seperti itu harus kita tangguhkan dulu. Sepertinya baru kemarin, kucentil tangan kecilmu untuk mengingatkan atas tingkahmu yang kuanggap melewati batas tetapi akhirnya kejadian itu terlintas kembali seperti sebuah martil raksasa yang menghantam kepalaku, membuatku menyesal telah berbuat itu kepadamu. Sepertinya baru kemarin kuterjaga ditengah malam dan memastikan bahwa engkau tetap terlelap disampingku, dan mulai kunikmati wajahmu yang mungil tanpa dosa yang sedang tertidur, tetapi hari ini dan esok untuk sementara waktu ku akan terlelap kembali seorang diri. Sepertinya begitu banyak rencana dan janji yang belum sempat terwujud, tetapi sekarang Sang Prajurit Perkasa harus kembali ketempat penugasannya demi tujuan mulia atas nama bangsa dan negaranya.

Sekedar untuk mengalihkan perhatiannya dari perpisahan yang sebentar lagi akan terjadi
Terbayang kembali setumpuk kegiatan rutin yang akan aku hadapi ditempat penugasan. Rutinitas dinas dan hidup sehari-hari yang disertai dengan ancaman keamanan dan tekanan akibat perbedaan lingkungan, persepsi dan budaya yang membuat semua orang lambat laun akan kembali rindu pada kampung halamannya (kalo meminjam istilah dari dari negara tetangga sih katanya “HOME SICK”). Rindu pada semua yang ada di kampung halaman sendiri yang ternyata setelah dibanding-bandingkan adalah yang terbaik di atas dunia ini. Demi anak istri yang menunggu dirumah, saya akan mampu melewati masa sulit itu, demikian seberkas tekad dengan suksesnya meresap ke dalam hati.
Akhirnya hanya doa menjadi tempat mengadu: “Tuhan penguasa sekalian alam, wujudkanlah keinginan dan harapan anak istri ku dan mampukan aku untuk menyelesaikan kewajiban yang Engkau telah berikan kepadaku. Sebenarnya bila hambaMu ini menginginkan keselamatan dalam penugasan bukan karena aku pengecut untuk menghindar dari kehendak Mu tetapi lebih karena mengingat mereka yang sedang menungguku di rumah”.
Terkulai diriku terbawa sayap-sayap kokoh si “Burung Besi” membelah angkasa. Seonggok manusia terdiam membisu disudut sepi Cabin Pesawat, sementara jiwanya tertinggal di rumah.
Desember 2009
Recent Comments
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago