Mendapat kepercayaan untuk menjadi Staff Officer di Air Operations (Airops) UNAMID, merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya. Tugas tersebut saya awali September tahun lalu, bersama 2 rekan lainnya (yang bertugas sebagai Military Observer) dalam misi UNAMID. UNAMID sendiri adalah misi PBB yang relatif baru (berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB tahun 2007) dan belum ada personel TNI yang pernah ditugaskan di sini sebelumnya. Menjelang pemberangkatan ke Darfur , Sudan, saya berusaha mencari informasi dari rekan-rekan maupun para senior yang pernah mendapat penugasan dalam berbagai misi PBB.
Selain itu saya browsing di internet untuk mendapat gambaran yang lebih lengkap tentang situasi dan kondisi di Darfur. Kebetulan juga saya pernah mengikuti Pembekalan Milobs yang diselenggarakan oleh PMPP (Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian) TNI, beberapa bulan sebelumnya. Berbagai informasi dan bekal pengetahuan yang saya dapatkan, merupakan modal yang sangat berharga bagi saya untuk berangkat ke daerah operasi.
Tiba di ibukota Sudan, Khartoum, kesan pertama, sebagaimana kesan-kesan rekan setanah air yang lain adalah bahwa Sudan panas dan berdebu. Beberapa hari perlu beradaptasi dengan cuaca setempat, sambil mulai melaksanakan proses adminstrasi di Khartoum. Hingga akhirnya kami bertiga yang ditugaskan di UNAMID, berangkat ke El Fasher, ibukota wilayah Darfur (Sudan Barat) dengan menggunakan pesawat PBB jenis MD-83 yang memakan waktu 1 jam 15 menit penerbangan dari Khartoum.
Dua minggu pertama di Darfur, kota El Fasher yang merupakan Headquarter dari misi UNAMID, kami mengikuti Induction Training. Setelah selesai training tersebut, barulah kami mendapatkan surat penugasan secara resmi atau Deployment Letter yang menyatakan di mana kami ditempatkan. Sesuai surat penugasan saya dari New York, maka saya ditugaskan sebagai Staff Officer di Airops UNAMID HQ di El Fasher. Sementara 2 rekan yang lain, masing-masing sebagai Military Observer di Sector West dan Sector South. Maka kami bertiga berpisah, sesuai dengan penugasan masing-masing.
Menginjakkan kaki di Aviation Section atau Air Operations UNAMID, saya bertemu dengan staf dari berbagai Negara baik civilian maupun military , yang kebanyakan memiliki latar belakang Aviation. Saya menjalani masa orientasi selama satu minggu, untuk mendapat gambaran tentang bidang tugas saya di Airops UNAMID. Saya ditempatkan di Planner Section, yang bertugas membuat perencanaan jadwal penerbangan harian sekaligus menjadi Duty officer di Airops UNAMID secara bergiliran. Selintas saya lihat bahwa tugas yang saya hadapi tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah saya lakukan sebagai Duty Pilot Ruang Operasi di TNI Angkatan Udara. Hanya saja di Airops UNAMID ini pesawat yang digunakan adalah pesawat-pesawat yang dikontrak PBB dari perusahaan penerbangan swasta yang berasal dari negara Rusia, Ukrania, Kanada, Bulgaria dan Spanyol. Selain itu sebagian besar asetnya adalah berupa pesawat Rotary Wing atau helikopter, sedangkan fixed Wing jumlahnya lebih sedikit.
Airops UNAMID memegang peranan penting dalam misi operasi PBB di Darfur, mengingat kondisi medan daerah Darfur yang sebagian besar wilayahnya berupa tanah tandus berpasir dan masih sedikit jalan yang telah diaspal. Kondisi medan tersebut cukup sulit untuk dijangkau melalui tranportasi darat. Selain itu kondisi keamanan yang tidak menentu juga menjadi pertimbangan, sehingga jalur udaralah yang menjadi andalan utama untuk menghubungkan satu daerah ke daerah lainnya. Hal ini membuat Airops UNAMID cukup sibuk, dalam setiap harinya rata-rata ada 20 hingga 30 penerbangan.
Sebagai Staff Officer di Planner Section, maka secara bergiliran saya membuat jadwal penerbangan harian, berupa penerbangan yang telah terjadwal setiap harinya, maupun penerbangan yang berdasarkan permintaan atau Special Request. Setelah melalui prosedur tertentu dan mendapat persetujuan oleh Chief terkait, maka unit-unit di UNAMID dapat mengajukan permintaan dukungan pesawat dalam format Air Mission Request untuk dicantumkan dalam rencana penerbangan.
Pada awalnya, jadwal penerbangan tersebut akan berupa rencana tahap awal atau draft yang akan dikirimkan ke unit-unit terkait melalui intranet pada 2 hari sebelum hari H, untuk mendapatkan input dan tanggapan. Pada H minus 1, maka akan dibuat jadwal penerbangan yang sudah final, lengkap dengan komposisi penumpang, barang dan berbagai detail lainnya, yang kembali dikirimkan melalui intranet. Jadwal final inilah yang akan digunakan sebagai dasar pembuatan Air Task Order atau surat perintah terbang kepada crew pesawat.
Berinteraksi dengan orang dari berbagai negara, dengan latar belakang dan tingkat kemampuan yang berbeda-beda menjadi tantangan tersendiri. Kendala bahasa, meskipun sama-sama berbicara dalam bahasa Inggris, namun dengan logat dan dialek masing-masing, juga merupakan tantangan lain yang membuat kita harus lebih jeli membedakan cara berbicara orang per orang, satu negara dengan negara lainnya. Salah satu tugas Planner Section, adalah berkoordinasi dengan unit terkait dalam merencanakan jadwal penerbangan, antara lain dengan unit Movement Control (Movcon) yang berurusan dengan detail penumpang dan barang, ataupun dengan berbagai unit lain, khususnya yang mengajukan permintaan Special Flight atau Air Mission Request. Selain itu, Planner juga selalu berkoordinasi dengan para Site Manager, dari perusahaan penerbangan yang dikontrak UN, tentang kesiapan pesawat dan crew yang akan diterbangkan maupun apabila ada perubahan-perubahan rencana yang sifatnya mendadak. Koordinasi adalah kata yang mudah diucapkan, namun dalam prakteknya sering sulit dilaksanakan.
Pembuatan jadwal penerbangan harian yang dikenal dengan istilah DFS (Daily Flight Schedule) memiliki tenggat waktu. Setiap harinya pada pukul 2 siang, jadwal tersebut harus sudah selesai dan dikirimkan melalui intranet kepada seluruh staf maupun unit yang terkait dengan operasi penerbangan. Sedangkan untuk menuntaskan jadwal penerbangan tersebut, harus tercantum detail jumlah penumpang, barang, persetujuan yang diperlukan dari pihak terkait (Security dsb).
Salah satu permasalahan yang sering timbul adalah kadang input yang diperlukan untuk melengkapi jadwal penerbangan tersebut terlambat, ataupun seringkali masih banyak perubahan-perubahan dan hal-hal yang perlu dikonfirmasikan, sehingga mengakibatkan pengiriman jadwal tersebut molor. Kalau sudah begini, siap-siap mendapat complain dari unit terkait karena keterlambatan peluncuran jadwal yang dimaksud. Kadang hingga sore menjelang petang pun masih ada perubahan-perubahan, misalnya kondisi pesawat yang tiba-tiba mengalami kerusakan teknis, atau kondisi cuaca yang mengakibatkan penerbangan ditunda atau dibatalkan kedatangannya, dan berbagai permasalahan lainnya. Memang sesuai dengan dinamikanya, maka Aviation harus fleksibel, namun demikian prinsip Keselamatan Penerbangan (Aviation Safety) tetap menjadi acuan yang tidak bisa ditawar.
Dalam membuat jadwal penerbangan, manajemen waktu merupakan hal yang harus diperhatikan. Hal ini terkait dengan keterbatasan jam operasional bandar udara di Darfur yang rata-rata mulai beroperasi pukul 8 pagi hingga pukul 19.00 sore hari (sunrise to sunset), pembatasan jam terbang maksimal pesawat setiap harinya (flying hours) , maupun pembatasan jam kerja harian setiap crew (working hours). Sebelum matahari terbenam, semua penerbangan harus dipastikan sudah mendarat. Batasan waktu dan aspek-aspek tersebut harus benar-benar diperhitungkan dalam merencanakan jadwal penerbangan. Namun kadang akan timbul permasalahan apabila terlalu banyak misi penerbangan yang harus dilaksanakan, sementara asset/pesawat, crew dan waktu yang tersedia terbatas .
Untuk itu perlu pengaturan penggunaan asset pesawat dan crew dalam jadwal waktu yang lebih efektif dan efisien. Permasalan lain yang timbul adalah kadang pada menit-menit terakhir pada saat jadwal penerbangan akan diluncurkan terjadi kerusakan teknis pada salah satu pesawat, maka perlu mencari pesawat lain sebagai pengganti yang dapat melaksanakan tugas/misi penerbangan tersebut. Ibarat bermain puzzle, maka diperlukan kejelian untuk mencari peluang kemungkinan dalam menyelesaikan permasalahan serta ketelitian dalam mengatur waktu penerbangan.
Setelah meluncurkan jadwal final penerbangan harian tersebut, maka pada sore harinya, dilaksanakan briefing penerbangan, yang diikuti oleh Site Manager dari operator pesawat yang dikontrak PBB. Dalam briefing tersebut disampaikan berbagai informasi tentang operasi penerbangan, antara lain kondisi keamanan di wilayah Darfur terkait adanya No Fly Area, atau daerah yang harus dihindari pada saat terbang, mengingatkan tentang prosedur keamanan dan keselamatan terbang (Safety Concerns), NOTAM (Notice to Airman), kesiapan pesawat dan informasi-informasi lainnya, serta rencana kegiatan penerbangan esok harinya.
Duty Officer bertugas untuk memantau dan mengawasi pelaksanaan penerbangan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat. Duty Officerlah yang mengkoordinasikan apabila pada hari H timbul berbagai permasalahan. Duty Officer akan menginformasikan kepada Chief Airops, sebagai pelaksana kegiatan penerbangan. Alat komunikasi berupa radio dan telepon menjadi senjata Duty Officer, untuk memantau, mengkoordinasikan, memberikan instruksi kepada pihak terkait dalam pelaksanaan operasi penerbangan. Namun demikian kadang-kadang jaringan komunikasi khususnya melalui telepon selular tidak selalu berjalan dengan mulus, sering mengalami gangguan pada waktu-waktu tertentu. Demikian juga dengan jaringan komputer kadang bermasalah sehingga dapat menghambat proses komunikasi dan koordinasi. Hal ini membuat Duty Officer cukup sibuk , karena terkadang berbagai permasalahan tersebut dapat timbul dalam waktu yang hampir bersamaan. Selain itu, Duty Officer harus siap siaga apabila setiap saat ada permintaan pesawat untuk ambulans udara yang dikenal dengan istilah Medical Evacuation (Medevac) ataupun Casualties Evacuation (Casevac).
Kondisi keamanan Darfur yang terbilang masih cukup rawan, kadang masih terjadi tindak kejahatan ataupun kontak senjata yang memakan korban. Apabila kejadian tersebut ada di daerah pelosok/team sites maka pesawat helicopter yang khusus disiapkan untuk Medevac/Casevac harus siap diberangkatkan setiap saat oleh Duty Officer. Dapat dikatakan penerbangan ini bersifat darurat apalagi bila berkaitan dengan kondisi pasien yang sakit parah dan perlu segera mendapatkan perawatan lebih intensif. Diperlukan kecepatan, ketepatan dan kesigapan pihak terkait dalam menangani penerbagan Medevac maupun Casevac ini, karena menyangkut nyawa manusia yang harus segera diselamatkan.
Tantangan lainnya adalah koordinasi dengan pihak Pemerintah Sudan sendiri dalam operasi penerbangan, yang kadang-kadang memerlukan waktu yang cukup lama dan proses yang agak berbelit-belit. Pemerintah Sudan selalu memberikan peringatan, bahwa setiap rencana penerbangan harus dikoordinasikan dan diberitahukan sebelumnya. Sehingga apabila ada pergerakan di luar rencana atau perubahan dari yang sudah direncanakan, hal tersebut tidak akan diijinkan oleh Pemerintah Sudan. Militer dan Pemerintah Sudan juga kerap mengingatkan pesawat-pesawat PBB untuk tidak terbang melintas di atas fasilitas pemerintah ataupun militer mereka. Sebagai negara tuan rumah tentu mereka berhak mengeluarkan aturan tersebut, hal ini menuntut Airops UNAMID untuk berkoordinasi lebih ketat, berkomunikasi lebih baik dan efektif dengan pihak otoritas penerbangan dari Pemerintah Sudan khususnya.
Berbagai tantangan dan permasalahan yang harus saya hadapi dalam penugasan sebagai Staff Officer Airops UNAMID ini membuat saya banyak belajar khususnya dalam merencanakan, memantau dan melaksanakan operasi penerbangan serta berkoordinasi dengan pihak-pihak lain. Beragamnya kewarganegaraan para personel yang terlibat misi UNAMID dengan karakter dan keunikan masing-masing membuat hari hari di Airops UNAMID menjadi lebih berwarna, meskipun kadang-kadang ada hal-hal tertentu yang memerlukan kesabaran dan harus lebih berlapang dada , misalnya dalam menghadapi perbedaan karakter dan budaya masing-masing orang yang jauh berbeda. Namun demikian, semua pengalaman dan penambahan wawasan yang saya dapatkan di sini merupakan hal yang sangat berharga, seraya berharap semoga semuanya akan baik-baik saja, seperti kata orang Sudan.. “Kullu Tamam”..


& Colleagues" />

& FlightFollowers" />
Mas Minta Extra Flight Dong dengan extra Destination ya Ke Cairo ato ke Indonesia mas Buat Mudik Ne boleh ga saya yang akan jualin tiketnya ntar gimana mas
Liat foto bersama dgn angkatan militer dr negara lain, unik ternyata corak lorengnya beda2 yah :P
Selamat bertugas dan tetap semangat :)
nach..blog ginian yg gw tunggu2…cerita2 dari dunia luar versi indonesia..ok dach…teruskan..gw ngelink dulu…
dari A sampai Z dijalankan secara disiplin dan tertib. wah memang butuh kerja keras ya pak.
Selamat bertugas semoga sehat dan sukses selalu. Amin