Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Alarikka

AIDS..??, nanti dulu!

2 December 2008, 09:11 , by Alarikka

 

Ada yang menarik di lobi kantor saya tanggal 1 Desember kemarin. Mojang-mojang cantik sibuk membagikan brosur kampanye peduli HIV AIDS dan kampanye kondom untuk seks yang aman. Tapi karena di lingkungan kerja, maaf, kondom tidak dibagikan. Tak ada pula demo pemakaian kondom. Toh kalau ada demo pun percuma kan, karena modelnya cuma pakai jempol doang. Hehhehhehe. Si mbak-mbak pun gesit membagi informasi. Bahkan kadang, mojang yang mirip Luna Maya tersipu sendiri, karena ia menawari aki-aki brosur tersebut. Kalau Luna Maya ini berpikir, masih kepake ndak ya itu barang aki. Hehhehehe.

Kenapa kantor dan bukan kompleks pelacuran yang jadi sasaran sosialisasi HIV AIDS? Sebelumnya, saya pun banyak keliling ke kantor-kantor dan pabrik untuk sosialisasi hal yang sama. Responnya macam-macam. Banyak sanggahan, ada pula yang bilang mereka bersih. Dari semua sosialisasi yang pernah kami lakukan, sosialisasi HIV AIDS ini yang mendapatkan respon paling ramai. Jam berapapun diadakan, tidak bakal bikin ngantuk. Lha gambarnya saja provokatif. Isunya sangat dekat dengan keseharian kita. Tidak pandang anak pak ustad, anak pendeta, lulusan pesantren atau siapapun dia. HIV AIDS bisa menimpa siapa saja. Bahkan ibu-ibu yang hanya tahu dunia sebatas rumahnya saja. Tadinya siapa sih yang kepikiran, ibu rumah tangga yang akhirnya terpapar juga? Entah dari suami, entah dari transfusi darah di rumah sakit, atau medium lainnya.

Korporat memang harus peduli dengan HIV AIDS. Itu pula yang mendasari tujuh perusahaan yaitu Sinar Mas, Chevron IndoAsia, Sintesa Group, Freeport Indonesia, PT Gajah Tunggal Tbk, BP dan Unilever Indonesia membentuk Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA).

Gagasannya sederhana, mencegah penyebaran lebih tinggi HIV AIDS di Indonesia khususnya di kalangan pekerja. Selain itu untuk mencegah diskriminasi kalau pun ada pekerja yang terpapar HIV AIDS.

Kenapa harus peduli? Ini dia jawaban dari IBCA.

HIV is a preventable disease
Prevention is good for business, save expenses, high profit, good for employee, family, community, make you feel good.
HIV/AIDS is a “business issue”

Jelas korporat harus peduli, karena dana yang dikeluarkan perusahaan jauh lebih besar bila terdapat karyawan yang terkena HIV. Data dari IBCA menyebutkan, paling sedikit 40 juta orang di dunia terinfeksi HIV, 25 juta diantaranya adalah PEKERJA.

Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Simak yang berikut. Jika ada karyawan HIV positif, maka perusahaan harus menanggung beban biaya sebesar Rp. 13.410.000 selama setahun (tanpa ada gejala infeksi oportunistik). Biaya tersebut belum termasuk biaya-biaya lain yang harus dikeluarkan oleh perusahaan seperti, biaya rekrutmen dan pelatihan dan pensiun. Tapi pasti biaya ini makin tinggi seiring dengan krisis global saat ini.

Apakah AIDS jadi ancaman dunia usaha? Afrika menjadi contoh. Pergantian karyawan mencapai 15%-84% per tahun, akibat HIV/AIDS dan kematian. Selain itu, 50% pekerja yang HIV + memegang posisi yang dianggap penting bagi perusahaan. Itu Afrika lho teman. Tapi bukankah tidak mungkin Indonesia akan menyusul pula. Diperkirakan hingga 2010 nanti kurang lebih 1-5 juta orang terinfeksi HIV.

Oh ya, saya baru baca buku tentang Kearifan Pelacur. Angka ini bagi Elizabeth Pisani penulis buku itu bukan sekedar deretan data saja. Siapa yang peduli program penyediaan jarum suntik steril di Indonesia? Ada ATM kondom saja diributkan. Yang dibilang melegalkan perzinahan lah, melegalkan pelacuran lah. Apalagi penyediaan jarum untuk mendapatkan rasa high dari heroin. Padahal, data menunjukkan, penjara menjadi pabrik HIV AIDS yang paling produktif. Dasarnya sangat sederhana, satu jarum dipakai ramai-ramai. Bahkan harga jarum bisa lebih mahal dari heroin dan teman-temannya. Mana ada pula calon presiden yang berani kampanye bagi kondom gratis dan menyediakan program jarum suntik di penjara.

Tapi entah kenapa, setiap ingat HIV AIDS, pikiran saya selalu melayang ke Afrika. Apa kabar HVI AIDS di sana saat ini? Sekedar informasi, tentara dan polisi adalah pelaku berisiko tinggi terpapar HIV AIDS di Indonesia. Bener nggak sih teman? Bagaimana dengan pasukan perdamaian kita yang ada di Afrika ya? Jadi pengen tahu.

Salam Peduli
 :-)

Alarikka Alarikka Having spent over 11 years as news correspondent/journalist, specializing to cover politics and Indonesian Military, Alarikka would then prefer to write more on travel and humanitarian featured topics. There are abundant wisdom in life to learn from the under previlleged...

Detail Profile »

2  Comments

by Luigi Pralangga at 2 December 2008, 09:30

Kendali terbesar adalah bukan dari obat2 anti-retrovirals itu – tapi lebih kepada pilihan diri apakah kita sebagai individu punya kemauan untuk tidak meresikokan diri [dari bahaya HIV/AIDS] ini.

Terlepas dari lebih dari 33% penyebarannya berada di Afrika, pola pikir preventiflah dapat menjauhkan kita, keluarga kita dan Indonesia dari menjadi bagian prosentasi kelas buncit penyebaran HIV/AIDS ini.

Guys and galls – Keep yourself safe – whatever it takes! :-)

by harri at 8 December 2008, 09:08

dikantor saya, yg namanya kondom selalu ada n you can take it anytime its free of charge cause we care.. :D adanya kondom jgn dilihat dari negatifnya, karna ini bagian preventif dari menanggulangi penyebaran virus ini

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Kawula PENGEMBARA Kawula PENGEMBARA Kawula Pengembara is a new comer in peacekeeping system he happened to be in Africa for some reasons or another. He loves to travel and has lots of stories. He has a single seater flying background and he loves adventures...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Hand-made Fitness Center ala Satgas Indobatt di Lebanon
Olah raga yang teratur akan sangat membantu dalam mewujudkan kesehatan jasmani yang baik. Dan tentunya akan lebih baik lagi jika memiliki fasilitas olah raga yang mendukung. Keterbatasan sarana olah raga di markas Gajah Mada Satgas POM TNI Konga XXV-B/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak membuat para _peacekeeper _Polisi Militer kehilangan akal. Dengan inisiatif dan kreatifitas para personil, mereka telah berusaha mengadakan sendiri peralatan olah raga yang dibutuhkan.
Muhammad Dahlan , 7 hours ago

The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI / Sector East Menerima UN Medal
Major General Alberto Asarta Cuevas selaku UNIFIL Head of Mission and Force Commander memimpin dan bertindak sebagai Inspektur Upacara.upacara penganugerahan medali PBB kepada prajurit The Spanish Contingent Libre Hidalgo XI... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Sisingaan Indobatt buat Terpana Warga Lebanon
(Marjayoun; 29 Juli 2010). Satu lagi andalan kebudayaan dan kesenian Indonesia yaitu tari Sisingaan yang Indobatt tampilkan untuk menyemarakkan acara malam Festival Kesenian. Tari tersebut membuat terpana penonton festival yang... »
Sanra Michiko Moningkey , 7 hours ago

Peleton Harpal Indobatt : “Tiada Kata Tidak Bisa”
Semboyan yang dimiliki oleh Peleton Pemeliharaan Peralatan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt) yakni: “Tiada kata tidak bisa” telah menjadi semacam daya dorong yang sangat membangkitkan... »
Sanra Michiko Moningkey , 2 days ago

Srikandi Indonesia Jajal Kemampuan pada ’21,5 km + 10 kg Dancon March’ di Lebanon Selatan
Kiprah Wanita Tentara Nasional Indonesia (Wan TNI) yang tergabung dalam Kontingen Garuda tahun 2010 pada misi penugasan UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) tidak kalah peran sumbangsihnya bagi TNI, bangsa dan negara Indonesia. Tiga dari lima Wanita TNI yang ada di Lebanon Selatan, menjajal kemampuannya dalam kegiatan jalan jauh atau yang lebih dikenal dengan nama Dancon March yang diadakan beberapa waktu lalu oleh Kontingen Negara Denmark dengan mengambil start dan finish di Danlog Square di dalam kompleks Markas Besar UNIFIL UN Posn 4-7C.
Sanra Michiko Moningkey , 3 days ago

 

Recent Comments

dino commented on Congo: The time has finally came
a few seconds ago


jarwadi commented on Indobatt Bantu Masyarakat Lebanon Selatan Panen Tembakau di Desa Deir Siriane
a few seconds ago


boy fadly commented on Balada sebuah pagi di Monrovia
a few seconds ago


boy fadly commented on Perjalanan seru menuju Ganta
a few seconds ago


boy fadly commented on Si jali-jali Nyasar ke Liberia
a few seconds ago